Skip to main content

Panglima TNI Di Fitnah Bahwa akan Rebut Pemerintahan,Ini Bantahan Kapuspen TNI




Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto membantah informasi yang mengatakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akan merebut pemerintahan.

Menurut dia, yang dilakukan Panglima TNI selama ini adalah membentuk karakter pemuda Indonesia agar memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme serta bela negara. "Bukan untuk berambisi mengambil alih pemerintahan," tegas Wuryanto, Kamis (8/12/2016) di Jakarta.

Wuryanto mengatakan hal itu dalam siaran pers kepada media mengomentari tulisan berjudul "Jokowi, waspadai terhadap ‘Kuda Troya’ JK dan Gatot Nurmantyo” yang diunggah di media online kompasiana.com pada 30 November lalu.

Menurut dia, tulisan tersebut sangatlah merusak citra dan nama baik institusi TNI serta meresahkan masyarakat Indonesia. Selain itu, opini yang dimuat dalam tulisan tersebut tidak benar dan tidak berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bahkan, menurutnya, tulisan tersebut merupakan fitnah dan pencemaran nama baik TNI. "Pernyataan opini tersebut merupakan fitnah dan pencemaran nama baik TNI secara institusi maupun terhadap Jenderal TNI Gatot Nurmantyo secara pribadi," tegasnya.

Ditambahkan opini yang menjurus sebagaai fitnah tersebut berpotensi munculnya konflik antar lembaga maupun kelompok masyarakat. Dia memastikan Panglima TNI tetap teguh menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara serta kebhinekaan.

Wuryanto menjelaskan, kegiatan yang di gagas oleh Panglima Gatot, seperti Doa Bersama yang dilaksanakan pada 18 November dan Apel Nusantara Bersatu pada 30 November merupakan kegiatan untuk mengajak masyarakat sama berdoa.

"Yakni agar negara kita terlepas dari perpecahan serta untuk persatuan dan kesataun bangsa yang berlandaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika," papar dia.


Wuryanto juga menjelaskan berbagai kegiatan Gatot yang sering berkeliling kampus untuk mengkampanyekan visi nasionalismenya. Menurut dia, kegiatan tersebut tiada lain untuk membentuk karakter pemuda Indonesia agar memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme serta bela negara.[tsc]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…