Pakai Pembantu, Bukan Ibu Rumah Tangga yang Baik?

ilustrasi




Sebuah pertanyaan dilayangkan pada Ummi, dari seorang ibu rumah tangga yang benar-benar full time mother, pertanyaan ini mungkin juga membuat gelisah beberapa wanita lain yang mempunyai permasalahan yang sama:

"Ummi, saya wanita yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga tanpa karir di luar rumah, akan tetapi dalam kegiatan sehari-hari, untuk masak, mencuci, membersihkan rumah, saya dibantu oleh seorang asisten rumah tangga (ART/ pembantu), apakah bisa dibilang saya bukan seorang ibu atau istri yang baik?"

Sahabat Ummi, perlu disadari bahwa setiap wanita memiliki karakter berbeda-beda, latar belakang keluarga dan ekonomi yang berlainan, juga hobi dan kemampuan yang tidak sama, sehingga tidak adil jika kita menjadikan kemampuan beberes rumah, memasak makanan, mencuci dan menyetrika pakaian sebagai standar penetapan label 'ibu atau istri yang baik'.

Apalagi, dalam Islam, tidak ada penetapan kemampuan tersebut sebagai kewajiban istri. Abdul Majid Mahmud Mathlub dalam kitabnya Al-Wajiz Fi Ahkamil Usroh al-Islamiyah dan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa sebagian fuqaha berpandangan seorang suami tidak boleh menuntut istrinya secara hukum untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena akad nikah yang terlaksana antara mereka berdua hanya bermaksud menghalalkan bergaul antara suami istri untuk menjaga kehormatan diri dan menghasilkan keturunan.

Pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan ini diwakili oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan az-Zhahiriyah. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa istri harus melayani suaminya hanya menunjukkan sifat kerelaan dan keluhuran budi.

 Penjelasan para ahli fiqih ini memperlihatkan bahwa seorang wanita yang suaminya mampu secara finansial, bisa meminta seorang khadimat untuk membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Akan tetapi jika suami tidak mampu menggaji seorang pembantu, maka kerelaan istri untuk melakukan tugas-tugas domestik seperti mencuci, memasak, dan berbenah adalah pahala tambahan bagi para wanita yang melakukannya.

Dalam haditsnya, Rasulullah menjelaskan tentang tanggung jawab kepemimpinan. “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam Tahrirul Mar’ah mengomentari kalimat “Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya”. Menurutnya, bukan berarti wanita harus melaksanakan sendiri semua tugas rumah tangganya, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika hingga membersihkan rumah. Tapi yang dimaksud adalah, semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasannya), namun bisa dilaksanakan orang lain seperti pekerja rumah tangga (pembantu), anak-anak, kerabat atau dibantu suaminya sendiri.

Maka sekali lagi, semua itu bergantung pada kemampuan nafkah dan finansial suami, juga kesempatan dan kemampuan istri untuk melaksanakannya dengan tidak mengabaikan tugas utama yang lainnya, yaitu merawat anak-anak dan mendidiknya dengan baik.

Nah, jika wanita yang memiliki pembantu rumah tangga ini khawatir pahala yang diperolehnya tidak sebanyak wanita-wanita yang mengerjakan segala tugas kerumahtanggaan dengan tangannya sendiri, maka hendaknya ia melakukan amal shalih lainnya yang bisa menambah kebaikannya di hadapan Allah, misalnya memperbanyak sedekah, aktif berdakwah, dan amalan-amalan lainnya.

Jangan sampai kita lupa bersyukur telah mendapat nikmat dan bantuan yang luar biasa dari Allah, tapi tidak berkontribusi apapun untuk menambah kemaslahatan umat. Wallaahualam.

sumber: ummionline