Memasang muslimah berjilbab sebagai iklan Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), kantor UKDW digeruduk ormas Islam Yoyakarta.

Merasa tidak terima dengan simbol agama Islam dilecehkan yang merupakan ranah aqidah, Ustadz Budi bersama anggota Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah (AMFUI) Yogyakarta, mendatangi Kantor Humas dan Admisi UKDW di Jl.Dr. Wahidin Sudirohusodo No.5-25, Yogyakarta.

“Hendaknya pihak UKDW tidak sembarangan, simbol jilbab untuk umat Islam dicampur dengan mereka yayasan Kristen. Kami amat sangat terusik sekali, jelas-jelas ini tidak dibenarkan secara syariat” katanya, pada tim liputan Jurniscom, Rabu (07/12/2016).

Menurut ustadz Budi, pihak UKDW beralasan iklan itu sebagai bentuk keberagaman dan kebhinekaan. Mereka mengaku yang menjadi model iklan pun mahasiswanya.

“Silahkan berbhineka, tapi jangan campur adukkan simbol umat Islam dengan yang lain. Mungkin bagi mereka halal-halal saja, tapi bagi kami ini tidak” tegasnya.

Umat Islam Yogyakarta merasa resah dengan Iklan UKDW yang menampilkan muslimah berjilbab. Ustadz Budi menambahkan bahwa permintaan umat Islam Yogyakarta, iklan itu harus segera diturunkan.

“Kami sangat-sangat tidak bisa menerima hal itu. Itu simbol kita, sampai titik akhir akan kita bela” ujarnya.

Sementara itu, Wiwid Kepala Unit Administrasi dan Promosi UKDW, saat didesak permintaan anggota AM FUI untuk mencopot iklan tersebut, dirinya mengatakan bahwa pihak UKDW dalam memasang baliho bekerja sama dengan bagian promosi eksternal. Menurutnya ada 6 titik baliho yang tersebat di pinggir jalan utama Yogyakarta.

“Kita berusaha memahami permintaan anda, kalau ingin mediasi dengan pihak Rektorat bisa kita sampaikan. Namun ada surat dari ormas anda, kalo untuk iklan yang didepan kampus, sudah kita lepas kok, bisa dicek” katanya.

Ustadz Budi memberi batas waktu 1 kali 24 jam bagi UKDW untuk melepas 6 baliho iklan PMB 2017/2018 yang tersebar di pinggir jalan wilayah Yogyakarta.

Editor : Deddy Purwanto
Reporter : Dyo
Share To:

Portal Dunia

Post A Comment: