Skip to main content

Nyeleneh! 6 Kali Gagal Jadi TNI, Pria Ini Nekat Beli Seragam di Pasar Turi

ilustrasi

Surabaya - Yusuf Wijaya (23), warga Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto punya alasan aneh ketika memutuskan menjadi penipu. Yakni, dia frustasi karena sudah enam kali gagal menjadi prajurit TNI.

Karena kekesalan itu pula, pria yang indekos di Jalan Petemon Surabaya ini nekad mengaku sebagai anggota TNI. Selanjutnya, menawarkan bantuan kepada para korbannya dengan dalih bisa memasukkan seseorang menjadi prajurit. Syaratnya, tentu saja dengan menyetor sejumlah uang.

"Daya gagal pada tes kesehatan saat mendaftar sebagai prajurit TNI. Karena kesal saya kemudian membuka akun media sosial (sosmed) facebook. Dari sosmed itulah saya menawarkan diri bisa memasukkan seseorang menjadi TNI dan mengaku sebagai anggota," ujar Yusuf, Minggu (11/12/2016).

Akibat ulah Yusuf, ada seorang yang menjadi korban, yakni Mudakir (20) warga Jalan Simopomahan Baru, Surabaya. Agar korban lebih yakin, maka Yusuf mengaku kalau dirinya berpangkat Serda dari kesatuan Denitelkam Kodam V Brawijaya.

Bukan hanya itu, Yusuf juga menunjukan KTA anggota TNI AD, satu stel seragam TNI, satu set pangkat Serda TNI AD, satu bilah sangkur, dua potong kaos doreng, tas ransel, dan baret warna biru. "Peralatan itu saya beli di Pasar Turi," jelas pria anak satu ini.

AKBP Shinto Silitonga, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, menjelaskan, korban tertarik ajakan tersangka karena dirinya pernah mengikuti seleksi Tamtama TNI AD di Kalimantan, namun gagal.  "Usai ada kesepakatan dari sosmed, tersangka mengajak ketemuan dirumah korban," kata Shinto.

Dalam pertemuan itu, telah dilakukan dua kali dengan tujuan meminta berkas pengajuan persyaratan menjadi anggota TNI sama meminta uang. Tersangka meminta uang Rp25 juta, tapi oleh korban ditawar menjadi Rp12 juta.

Ketika sudah disepakati, korban tidak langsung memberikan secara tunai, melainkan diberikan secara bertahap. Pertama Rp10 juta dan kedua Rp2 juta. "Pemberian uang ada di rumah korban," jelasnya.

Kecurigaan korban muncul setelah ditunggu hingga awal Desember 2016, ternyata tidak ada kejelasan. Korban mencoba menghubungi tersangka untuk menanyakan kepastian tersebut. Namun oleh Yusuf hanya dijawab bahwa korban tidak lolos dalam seleksi penerimaan prajurit TNI AD.

Merasa tidak sesuai kesepakatan, korbanpun melapor ke petugas sampai akhirnya tersangka di tangkap di tempat kosnya. "Sebelum melakukan penangkapan ini, kami terlebih dulu bekerja sama dengan Denpom," terang Shinto.

Sumber: beritajatim

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…