Skip to main content

Nah lho! Soal Komentar Sidang Ahok, Pengacara: Antasari tak Punya Akun Twitter


www.postmetro.co - Sidang pertama kasus penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyedot perhatian khalayak ramai. Bahkan di jejaring media sosial Twitter menempatkan tanda Pagar #SidangAhok menjadi topik terpopuler atau trending topic.

Satu dari netizen melalui akun Twitter @AntasariAzharID berkicau mengenai hal ini. Akun tersebut terpampang foto mantan Ketua KPK, Antasari Azhar yang baru saja bebas bersyarat dari Lapas Tangerang. "Ramai #SidangAhok, jangan sampai Kriminalisasi terjadi lagi," tulis akun @AntasariAzharID.

Kicauan akun tersebut menuai banyak komentar dari para netizen. Warganet ramai-ramai menimpali akun @AntasariAzharID ini. "Setuju, jangan sampai ada Antasari jilid 2, balik usut & penjarakan koruptor/provokator," kicau netizen dengan akun @goldenkey555.

Antasari Azhar melalui pengacaranya Boyamin Saiman memberikan konfirmasi soal ini. "Antasari tidak punya akun Twitter, itu akun palsu yang mengatasnamakan Antasari Azhar," ujar Boyamin, Rabu (14/12).

Ia menambahkan mantan Ketua KPK tersebut tidak ada keterkaitannya dengan apa pun yang dikicaukan akun Twitter itu. Bahkan menurut Boyamin, akun ini sebagai bentuk penyalahgunaan IT.

"Saya sudah cek banyak sekali yang mengatasnamakan Antasari Azhar. Banyak akun yang seolah-olah asli milik Antasari. Antasari Azhar tidak punya satu pun akun Twitter dan menyatakan tidak bertanggung jawab, serta penggunaan akun palsu tersebut sebagai penyalahgunaan IT yang berimplikasi hukum," kata Boyamin.

Lini masa ramai mengomentari sidang tersebut. Terlebih ketika Ahok menangis saat membacakan nota keberatan alias Eksepsi dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta pada Selasa (13/12). [rol]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…