Header Ads

MUI: Terapkan Ajaran Islam dalam Sistem Negara Bagian dari Kebhinekaan


www.postmetro.co - Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara soal isu Islamisasi dan kebhinekaan. MUI membantah jika telah melakukan Islamisasi dengan alasan Islam sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan jumlah penduduk Indonesia beragama Islam mencapai 90 persen. 

“Ajaran Islam itu tidak merusak kebhinekaan, bahkan bagian dari kebhinekaan. Kalau tidak boleh berarti tidak bhineka. Umat Islam ini aspirasinya harus ditampung,” ungkap Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Selasa malam (13/12/2016). 

Karena itu, tegas Kyai Ma’ruf, menerapkan ajaran Islam dalam sisten negara ini merupakan bagian dari kebhinekaan itu sendiri.  

Jika merunut sejarah, Indonesia ini malah hampir menjadi negara Islam. Tetapi demi NKRI, akhirnya yang disepakati adalah Piagam Jakarta. Dengan demikian harusnya polemik mengenai diberlakukannya ajaran Islam dalam sistem kenegaraan sudah selesai dan tidak perlu disoal lagi. 

Lalu adanya pencoretan tujuh kata dalam pembukaan UUD 1945, juga menunjukkan bahwa umat Islam mengalah lagi. Padahal, kata Kyai Ma’ruf, andai tujuh kata itu tidak dicoret, umat Islam saat ini tidak perlu repot-repot lagi memasukkan konsep terkait syariah. 

“Kita punya konsep langsung masuk. Karena tidak ada, demi NKRI, kita harus berjuang memasukkan lagi (aturan yang sesuai syariah, red). Rupanya pendahulu kita ingin kita keluar keringat berjuang,” ungkap Rais Aam PBNU ini.

Kyai Ma’ruf tetap menekankan bahwa dalam memperjuangkan Islam di negara ini harus dengan cara-cara yang demokratis dan konstitusional. Dakwahnya pun harus dengan cara washatiyah. [sic]
Powered by Blogger.