Skip to main content

Misteri 'Jalan Keluar' Ahok Usai Sidang Kasus Penistaan Agama

Portaldunia.com, JAKARTA -- Tiba-tiba, Kijang Innova model terbaru berwarna hitam berhenti tepat di depan sebuah rumah pengobatan urut. Kaca mobilnya hitam. Orang pun tidak akan ada yang tahu siapa yang berada di dalam.

Plat nomornya, B 1608 FRS. Kijang ini tampak sedang menanti kedatangan seseorang. Tidak lama kemudian, beberapa petugas kepolisian keluar dari rumah pengobatan itu. Mereka terlihat sedang menjaga seseorang yang hendak masuk ke dalam mobil.

Republika.co.id tidak melihat persis siapa yang masuk ke dalam. Saat mobil berjalan pun sukar untuk melihat sosok yang berada di dalam mobil.

Namun, dari informasi warga setempat, yang masuk ke mobil itu adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia keluar dari rumah urut tersebut, lalu dengan diiringi petugas kepolisian, langsung berjalan masuk ke dalam mobil.

Rumah pengobatan urut itu berada di belakang gedung bekas pengadilan negeri Jakarta Pusat. Gedung itu kini dijadikan tempat persidangan perdana kasus dugaan penistaan agama dengan Ahok sebagai terdakwa. Sidang selesai sekira pukul 12.00 WIB, Selasa (13/12).

Usai sidang, Republika.co.id mengonfirmasi beberapa warga, termasuk penghuni rumah pengobatan urut itu. Mulanya, yang ditelusuri adalah gang kecil di sebelah rumah pengobatan ini. Di ujung gang, ada warung makan Padang dan tempat Photo Copy.

Seorang pria pemilik usaha Photo Copy ini mengatakan, tidak ada jalur yang dapat menembus ke dalam gedung pengadilan. "Enggak bisa. Kalau yang pintu ini rumah orang," kata dia sambil menunjuk ke arah sebuah pintu di sebelah mesin foto copy-nya.

Kemudian, Republika.co.id menyambangi rumah pengobatan urut tersebut lalu mengetuk pintunya. Pintu pun dibuka, dan tampak ada dua perempuan paruh baya di dalam. Saat ditanya soal Ahok yang melintas keluar dari rumah pengobatan ini, dua perempuan itu kompak membantah.

"Enggak mas, enggak," jawab dua perempuan itu dengan cepat. Pintu pun langsung ditutup.

Di sebelah rumah pengobatan urut ini, terdapat rumah usaha pengiriman barang. Ada satu perempuan dan satu laki-laki di dalam. Perempuan ini mengamini, Ahok memang keluar dari rumah pengobatan urut tersebut.

Selama sidang berlangsung, kata dia, banyak aparat yang berjaga-jaga di rumah pengobatan itu. Ia sendiri diminta aparat untuk masuk ke dalam rumahnya. "Iya disuruh masuk ke dalam. Enggak boleh keluar katanya," tutur dia.

Begitupun dengan pria yang berada di rumah usaha pengiriman barang ini. Ia juga melihat Ahok yang keluar melewati pagar hitam di depan rumah pengobatan urut itu. Pria ini juga merekam detik-detik saat Ahok keluar melintasi pagar hitam.

Salah seorang juru parkir di kawasan tersebut, Agun, mengungkapkan sejak sekitar tiga hari sebelum sidang sebetulnya ada sejumlah aparat kepolisian yang seolah sedang menyurvei lokasi. Aparat ini, lanjut dia, menyusuri rumah pengobatan tersebut. "Jadi mereka sudah bikin ancang-ancang gitu (untuk sidang Ahok)," tutur dia.

Agun juga membeberkan, sebelumnya tidak ada jalur atau jalan yang bisa menembus masuk ke bagian dalam gedung pengadilan. Menurut dia, petugas kepolisian itu telah membobol salah satu bagian dalam rumah pengobatan.

"Dibobol itu mah, itu kan lihat tuh gedungnya (pengadilan), bisa tembus ke situ kalau lewat tempat urut," ungkap dia.

Gerbang utama gedung, sejak pagi dipadati tidak hanya aparat keamanan, tapi juga massa baik itu yang pro-Ahok ataupun yang pro dengan penegakan hukum kasus dugaan penistaan agama. Massa berkerumun di depan gedung hingga memakan satu jalur Jalan Raya Gajah Mada arah Kota Tua.

Sidang tersebut kelar sekira pukul 12.00 WIB. Ketika itulah, para pewarta berharap mendapat komentar dari Ahok. Namun, apa daya, Ahok tidak juga memunculkan batang hidungnya di gerbang utama.

Banyak pewarta yang tidak tahu lewat mana Ahok keluar dari gedung pengadilan itu. Tersiar kabar di kalangan pewarta, Ahok keluar dengan Barracuda. Meski kemudian Wakil Kapolda Metro Jaya, Brigjen Suntana, membantahnya.

Sumber: Republika

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…