Skip to main content

Miris! Sudah Diamankan di Polsek, dan Didatangkan Pendeta, Massa Tetap Main Hakim Sendiri Sampai Pelaku Tewas

ilustrasi






Hingga sore ini, jenazah Irwansyah, pelaku penusukan terhadap tujuh murid SDN 1 Sabu Barat, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggaran Timur (NTT), yang dihakimi massa hingga tewas masih berada di  Polsek Sabu Barat.

Menurut Kapolsek Sabu Barat, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Ahmad Nawani, tim medis telah melakukan autopsi terhadap jenazah pria 21 tahun asal Depok Jawa Barat itu. Namun kata dia, jenasah Irwansyah belum bisa dibawa keluar dari polsek.

"Jenasah Irwansyah masih diamankan di Mapolsek. Kami masih tunggu petunjuk lebih lanjut dari Polda NTT apakah nanti jasad pelaku ini dibawa ke Kupang ya kita tunggu petunjuk lebih lanjut," kata Ahmad Nawawi.

Seperti diketahui kalau massa yang jumlahnya ribuan mengepung Polsek Sabu Barat untuk menghakimi pelaku. Massa datang dengan membawa senjata tajam. Selain warga Sabu Barat, mereka bahkan datang dari Sabu Timur dan Sabu Tengah.

“Mereka menuntut pelaku diserahkan kepada mereka untuk dibunuh,” katanya.

Pengamanan yang telah dilakukan dengan petugas tidak dapat menghalau massa yang datang. Mereka menjebol temboh tahanan, menaiki atap tahanan dan melempari pelaku dengan batu dan kayu. Aksi massa ini membuat pelaku tewas di ruang tahanan.

“Massa menjebol tembok ruang tahanan. Ada juga yang naik di atap. Mereka melempari pelaku dengan batu dan kayu," ujar Nawawi.

Dijelaskan Nawawi, jajaranya telah berupaya keras meredam massa yang murka bahkan ia mendatangkan tokoh agama dan pejabat pemerintah untuk menenangkan massa. Namun, mereka tetap tidak mau mendengar arahan petugas dan juga tokoh agama.

"Tadi ada Pastor dan Pendeta datang ke Polsek berusaha menenangkan massa. Namun ribuan orang yang memenuhi polsek dan tak mendengar arahan tokoh agama," katanya.

Bahkan bebrapa dari mereka terlibat perkelahian karena sempat ada pihak yang ingin agar mereka menuruti ajakan tokoh agama. Mereka yang mencoba mendokumentasikan aksi ini ikut dipukuli lantaran warga kesal.

"Sempat terjadi perkelahian dan pakai pisau juga. Ada juga yang babak belur dipukul karena mengambil gambar saat massa merangsek ke ruang tahanan," katanya.

Ahmad Nawawi mengungkapkan, meski situasi sudah mulai kondusif namun massa masih bertahan di sekitar kantor polisi. Petugas juga mengamankan tempat kos pelau di sekitar Kelurahan Meba.

"Ada informasi masuk terkait Irwansyah ini. Katanya sih dia ini datang ke Sabu Raijua untuk berdagang alat dapur saja. Tetapi kita ada temuan lain dan itu sudah kami sampaikan ke Polda dan diteruskan ke Mabes," katanya.

Ditanya apa informasi terbaru itu, Nawawi menolak menjelaskan lebih lanjut.

"Sudah yah, Bapak Kapolda NTT sedang menuju ke sini," katanya.

sumber: viva

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…