Skip to main content

Metro TV Dan Stereotip 'Metro Tipu'


Nama Metro TV mencuat belakangan ini menjadi bahan pembicaraaan, namun dengan cara yang sangat tidak diinginkan, yaitu: dikecam, seruan boikot dan dibully.

Bukan tanpa alasan, netizen dari kalangan Islamis memandang Metro TV memiliki dosa akut soal framing pemberitaan umat Islam dan "berulang kali membuat fitnah".

Sejak beberapa tahun silam, Metro TV telah melakukan "blunder" yang merendahkan Islamis secara langsung.

Sebut saja berita rohis jadi ladang persemian teroris yang jadi viral.
Bagai anak panah yang terlanjur melesat maka mustahil ditarik lagi, berita-berita blunder Metro TV terkait Islam perlahan namun pasti membangun sentimen negatif.

Metro TV juga dinilai kerap menyudutkan ormas Islam, seperti FPI misalnya. Dalam artian mudah menemukan berita buruk tentang FPI daripada berita kebaikan mereka.

Berbanding terbalik dengan pemberitaan partai Nasdem, Metro TV dipandang publik sebagai kepanjangan media partai itu.

Klarifikasi ataupun permintaan maaf hanya dipandang pemirsa sebagai upaya di kala terdesak. Respek memang sudah luntur.

Kini, setiap Metro TV membuat berita tak berimbang, dampak dan respon kalangan Islamis makin meningkat untuk mengampanyekan menolak media itu.

Mereka beramai-ramai mengaku menghapus Metro TV dari daftar tontonannya.

Hal-hal buruk atau celah kesalahan hingga fakta lucu tentang Metro TV pasti cepat viral, dan ini terus membangun pandangan buruk kalangan Islamis.

Misalnya pemberitaan terkait Aksi Bela Islam oleh Metro TV.

Mulai dari masalah sampah yang dianggap dibesar-besar Metro TV, pada Aksi Bela Islam I.

Di Aksi Bela Islam II, yel-yel mengecam Metro TV mulai bergema.

"Awas jangan injak taman dan nyampah, nanti direkam Metro TV", ujar peserta saat itu.

Juga jumlah peserta yang dianggap dikecil-kecilkan, membuat netizen Muslim memandang buruk Metro TV.

Kru mereka berulang kali diusir oleh massa. Sementara di dunia maya, video itu viral dan jadi ajang membully stasiun TV yang terlanjur dipandang anti Islam ini.

Akhirnya lahirlah istilah "Metro Tipu" sebagai plesetan Metro TV, yang merupakan buah kekesalan atas track record media itu, seperti yang mereka tahu.

Awal pekan ini, jagad twitter dihebohkan dengan hastag #BoikotMetroTV yang segera jadi trending topic.

Kritikan, kecaman dan ledekan bertubi-tubi menghajar Metro TV.

Hingga komentar buruk salah satu pekerjanya bernama Janes C Simangunsong makin memperparah posisi mereka.

“Banyak orang tetiba jadi pakar jurnalistik, sok ngerti framing, jadi ahli media, pengamat saham dan politik. Padahal otak udang semua”, kata Janes C. Simangunsong.

Hal itu tambah membuat marah netizen kepada Metro TV. Dan mengorek-ngorek tweet lama Janes yang berisi sangat mengerikan, termasuk menyebut FPI dengan 'Fantik P*nis dan I***'.

Setelah tersudut, Janes kemudian meminta maaf dan mengunci akunnya. Ia mengaku tweet-tweet tidak senonoh itu dibuat saat dirinya masih kuliah dan belum bekerja di Metro TV.

Namun, kesimpulan bahwa Metro TV bercorak anti Islam makin kuat setelah netizen melihat sosok seperti Janes bisa bekerja di sana.

Lalu lewat sebuah petisi online, penolakan Metro TV mendapat persetujuan hingga 54 ribu orang.

"...Oleh karna itu inilah kado untuk MetroTV yang berulang tahun ke 16 tahun dari kita rakyat Indonesia. Demi kebaikan Muslim, tinggalkan Metro TV. Jangan tonton acaranya, agar ratingnya rendah. terlalu keji ia memusuhi Islam & Muslimin sejak beberapa tahun yang lalu", ajak petisi yang dibuat oleh Triyan Wibowo.

Media TV tak lagi bisa memonopoli opini, namun justru mereka yang jadi sasaran pandangan masyarakat di era media sosial. (rslh)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…