Skip to main content

Menjadi Pembela Al-Quran Sesungguhnya


Forum Intelektual Mahasiswa Islam pada Ahad, (11/12) menyelenggarakan agenda Kajian Islam Mahasiswa (KALAM) di Masjid Bahrul Ulum Cimahi.

Agenda yang bertajuk “Menjadi Pembela Al-Quran Sesungguhnya” ini diikuti oleh sejumlah mahasiswa yang berasal dari kota Cimahi.

Pemateri mengajak mahasiswa agar Aksi Bela Islam jilid III atau disebut aksi 212 harus tetap dijaga semangatnya.

“Ghiroh umat Islam yang sudah mulai bangkit dalam aksi bela islam 212 harus tetap kita jaga,” ajak Aminudin, selaku pemateri.

Untuk menjaga semangat perjuangan Islam, pemateri mengajak mahasiswa agar semangat mempelajari dan mendakwahkan Islam secara menyeluruh.

“Kita sebagai mahasiswa, sebagai pemuda yang semangatnya tinggi sudah semestinya mempelajari dan mendakwahkan Islam secara kafah agar semangat umat islam tetap terjaga,” papar mahasiswa Stimik Mardira Bandung ini.

Persatuan umat Islam dalam aksi bela Islam jilid III telah membuktikan bahwa umat ini merupakan umat yang terbaik sebagai mana Firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 110. Sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kepada yang makruf, dan mencegah kepada yang mungkar, dan beriman pada Allah.

“Persatuan umat Islam dalam aksi 212 kemarin telah membuktikan bahwa umat islam merupakan umat yang terbaik sebagai mana yang dijelaskan dalam Quran surah Ali Imron ayat 110,” pungkas amin.

Amin menjelaskan masih banyak ayat alquran yang perlu kita bela dan perjuangkan. Hanya saja faktanya sangat berkebalikan. Jika di dalam Al-Quran, jilbab bagi wanita diwajibkan, namun dalam sistem saat ini khususnya di Indonesia hukumnya masih mubah, justru lebih wajib pakai helm bagi pengendara motor.

“Aksi bela quran kemarin bukanlah akhir, dan itu baru satu ayat, masih banyak ayat-ayat yang lain perlu kita perjuangkan,” pungkasnya.

Sumber: kiblat

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…