Skip to main content

Mana yang Baik, Keramas Setiap Hari atau Jarang-Jarang?

ilustrasi

Untuk mendapatkan rambut yang bersih dan sehat, kita tentu harus rajin melakukan perawatan pada rambut. Salah satu cara yang paling efektif dalam menjaga kesehatan dan kebersihan rambut adalah dengan berkeramas. Dengan berkeramas, kita akan secara efektif membersihkan berbagai kotoran yang menempel pada rambut dan kulit kepala. Kita juga akan lebih baik dalam membersihkan berbagai debu, minyak alami, keringat, atau bahkan jamur yang bisa saja berada di kulit kepala. Namun, sebuah pertanyaan pun muncul, sebenarnya, seberapa seringkah frekuensi keramas yang sebaiknya kita lakukan?

Pakar kesehatan menyebutkan jika andai kita malas berkeramas hingga berhari-hari, maka kita akan membiarkan berbagai kotoran semakin menumpuk di kulit kepala dan membuatnya dipenuhi berbagai jamur yang tentu bisa memicu peradangan, masalah kulit kemerahan, gatal-gatal, atau bahkan munculnya borok. Joshua Zeichner, dermatolog yang berasal dari Mount Sinai Medical Center di New York, Amerika Serikat, menyebutkan jika andai kita berkeramas dengan rutin pun, jamur yang berjenis malassezia ini sebenarnya juga bisa muncul pada kulit kepala sehingga akan memicu rasa gatal. Namun, jamur ini akan tumbuh dengan jumlah yang sangat berlebihan sehingga memicu berbagai masalah pada kulit kepala andai kita malas mencuci rambut dengan rutin.

Lantas, apakah kita sebaiknya rutin membersihkan rambut setidaknya sehari sekali demi mencegah tumbuhnya jamur ini secara berlebihan? Zeichner ternyata sangat tidak menyarankan hal ini dan lebih merekomendasikan keramas dengan frekuensi sekali dalam dua hari. Beliau menyebutkan jika andai kita berkeramas lebih sering dari rekomendasi tersebut, dikhawatirkan bahan kimia shampoo justru akan menghilangkan kelembaban alami pada rambut.

Hanya saja, andai kita termasuk dalam orang-orang yang sangat aktif layaknya yang berkegiatan di luar ruangan dan cenderung kerap terkena kotoran atau debu, barulah kita sangat direkomendasikan untuk berkeramas setiap hari. Dengan melakukannya, rambut dan kulit kepala pun akan terbebas dari berbagai debu, kotoran, dan juga keringat yang berlebihan.

Sumber: doktersehat

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…