Skip to main content

Mainkan Peran Korban Teraniaya; Pengacara Sebut Jasa Ahok terhadap Islam



Peneliti LSI Ardian Sopa mengatakan, Ahok akan membuktikan diri bahwa dia tak bersalah meski berstatus tersangka. Pasalnya, penyandang status tersangka belum bisa dinyatakan bersalah karena baru diduga sebagai pelaku tindak pidana.

Menurut Ardian, Ahok bisa menggunakan situasi ini dengan bermain playing the victim atau berperan sebagai korban dalam sebuah peristiwa. Ahok bisa memanfaatkan status tersangka dugaan penistaan agama dengan menjadi `korban yang teraniaya`.

"Jadi kalau misalnya Ahok-Djarot bisa menggunakan playing the victim ini, bermain peran, ini bisa membalikkan situasi," kata Ardian dikutip cnnindonesia.com.

Bertindak sebagai korban, dalam buku Psikolog asal Amerika George K Simon, In Sheep`s Clothing, merupakan strategi untuk memanipulasi pikiran orang lain. Cara ini dinilai efektif karena setiap orang tak ingin melihat orang lain menderita agar tidak merasa bersalah terhadap diri sendiri.

Dengan berlagak sebagai korban, artinya Ahok harus memposisikan diri sebagai seorang yang terdampak dari suatu peristiwa atau pihak yang paling dirugikan. Dengan kata lain, Ahok dituntut bisa menunjukkan bahwa status tersangka-nya itu merupakan akibat dari peristiwa lain.

Ahok harus bisa menyentuh pikiran masyarakat bahwa dia merupakan korban dari semua rangkaian peristiwa  dugaan penistaan agama ini. Serta mempelihatkan bahwa dia adalah pihak yang paling dirugikan.

"Karena masyarakat indonesia mayoritas suka sekali mendukung yang terzalimi, yang teraniya begitu," tutur Ardian.

Pendapat yang sama juga diutarakan pengamat politik Universitas Padjajaran Idil Akbar. Menurutnya, strategi politik sebagai korban bertujuan mempengaruhi persepsi masyarakat dengan sasarannya  bukan logika atau rasional, tapi perasaan. Dia menyarankan Ahok bekerja keras dengan menggunakan strategi ini.

"Ahok akan menjadi pusat pemberitaan. Berita positif atau negatif, dalam politik akhirnya menjadi positif. Melalui pemberitaan, Ahok akan mengubah mindset orang Jakarta sehingga menganggap Ahok korban, bukan pelaku. Ia akan menggerakkan sumber daya relawan, mesin politik, dan media massa," kata Idil.

Pengacara: Jasa Ahok Terhadap Islam

Pengacara terdakwa dugaan kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Sirra Prayuna, menyampaikan bahwa Ahok banyak melakukan kebaikan untuk umat Islam selama menjadi pejabat publik.

"Berbagai perbuatan yang dilakukan, jelas menyatakan bahwa Ahok bukan pembenci Islam, Ahok banyak melakukan kebaikan untuk umat Islam," kata Sirra.

Sirra menyampaikan hal tersebut saat pembacaan nota keberatan pada sidang perdana kasus dugaan penistaan agama yang digelar di Pengadilan Negeri Perikanan Jakarta Utara, Selasa.
Dalam nota keberatan, Sirra memaparkan, Ahok membangun beberapa masjid, seperti Masjid Fatahillah di Balai Kota yang menghabiskan anggaran Rp18,8 miliar selama menjadi Gubernur DKI Jakarta,

Selain itu, lanjut Sirra, Ahok juga menginisiasi pembangunan Masjid Raya Provinsi DKI Jakarta di Daan Mogot dengan anggaran Rp170 miliar, yang rencananya akan selesai pada akhir 2016.

"Ahok ingin Provinsi DKI Jakarta memiliki Masjid Raya, sehingga dibangunlah masjid di Daan Mogot. Karena Masjid Istiqlal merupakan masjid negara, bukan provinsi," ungkap Sirra.

Kemudian, Ahok juga membangun masjid Al-Hijrah di rumah susun Marunda, Jakarta Barat, dan Masjid Al-Muhajirin di rusun Besakih, Jakarta Barat.

Sirra menyampaikan, Ahok juga memajukan Masjid Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, sebagai etalase keilmuan keislaman dan wisata religi.

Sirra juga menyebut, Ahok mengumrohkan 40 orang penjaga masjid, marbot dan kuncen makam di Jakarta pada 2015, 50 orang pada 2016 dan rencananya 100 orang pada 2017.

"Ahok menutup lokalisasi prostitusi di Kalijodo dan beberapa diskotek," tukas Sirra dikutip Antara.

Dengan perilaku di atas, lanjut Sirra, Ahok jelas berupaya mensejahterakan umat Islam saat menjadi pejabat publik.

"Sangat ironis jika hari ini kita sedang menonton pengadilan yang didesak massa. Ahok yang mensejahterakan Islam, justru didakwa dengan tuduhan menodai agama Islam," pungkasnya. [htc]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…