Lho Ada Apa CIA Sampai Sebut Rusia Bantu Trump Untuk Menangkan Pemilu

ilustrasi


Badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), menyebut Rusia telah ikut campur dalam pemilihan presiden negeri Paman Sam.

Menurut Reuters yang mengutip seorang sumber Washington Post, Sabtu (10/12), intervensi itu dilakukan untuk membantu Donald Trump sehingga akhirnya terpilih sebagai presiden.

Sumber, yang merupakan seorang pejabat AS, megatakan badan-badan intelijen telah mengidentifikasi orang-orang yang berhubungan dengan pemerintah Rusia terkait hal ini.

Mereka diduga bertanggungjawab atas ribuan surat elektronik yang diretas dari Komite Nasional Demokrat dan pihak-pihak lain, termasuk pemimpin tim kampanye Hillary Clinton, ke WikiLeaks.

Sumber tersebut menjelaskan, orang-orang yang telah dikantongi identitasnya itu terlibat dalam operasi besar Rusia menggenjot suara Trump dan mengurangi peluang Clinton memenangi pemilu.

"Berdasarkan peninjauan komunitas intelijen, tujuan Rusia di sini adalah untuk membantu salah satu kandidat, untuk menolong Trump hingga terpilih," kata pejabat itu.

Laporan tersebut juga menyebut sang sumber diberi penjelasan mengenai presentasi yang dibuat CIA untuk beberapa senator kunci di AS secara tertutup.

CIA, dalam peninjauan rahasia itu, menyoroti bukti yang terus berkembang dari berbagai sumber. Dalam penjelasan untuk para senator tersebut, dikatakan sudah cukup jelas tujuan Rusia adalah untuk memilih Trump.

Ketika dikonfirmasi, pihak CIA menolak mengomentari laporan ini.

Sebelumnya, bocoran email yang dipublikasikan WikiLeaks menunjukkan para petinggi Demokrat mengungkapkan mereka lebih mendukung Hillary Clinton ketimbang Bernie Sanders dalam pertarungan pemilu primer 2016.

Debbie Wasserman Schultz, pemimpin Komite Nasional Demokrat (DNC) mundur akibat skandal email tersebut.

Saat itu, seorang sumber keamanan Amerika Serikat juga langsung menyalahkan Rusia atas peretasan ini.

Skandal email ini juga mengundang kontroversi lain ketika Trump menyerukan Rusia untuk mencari puluhan ribu email Clinton yang hilang dari akun pribadinya ketika menjabat sebagai menteri luar negeri pada 2009-2013.

Sementara, Pendiri situs WikiLeaks Julian Assange menolak memboborkan siapa yang berada di belakang peretasan email Partai Demokrat.

Assange sendiri saat ini berada di kedutaan Ekuador di London sejak 2012 guna menghindari ekstradisi ke Swedia, di mana ia menghadapi tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual.

sumber: cnn