Skip to main content

Lembaga Kemanusiaan Turki Berkirim Surat, Minta NGO Indonesia Berbuat Nyata untuk Aleppo


Duka kembali menyeliputi Aleppo. Ribuan orang meninggal dunia, anak-anak terbunuh dan tertimbun di dalam bangunan. Tragedi Aleppo telah menciptakan krisis kemanusiaan yang sangat besar. lembaga Kemanusiaan Internasional di Turki, İHH (İnsani Yardım Vakfı) pun berkirim surat untuk lembaga Kemanusiaan di Indonesia, salah satunya Indonesian Humanitarian Relief Foundation (IHR) untuk dapat berbuat bagi warga Aleppo.

Melalui Departemen Kemitraan Internasional, IHH mengajak IHR agar dapat berbuat nyata bagi warga Aleppo. “Setidaknya kita dapat membantu mereka bertahan hidup… Mari kita lakukan ini dengan cepat,” bunyi petikan surat dari IHH seperti dalam rilis yang diterima Kiblat.net, Sabtu (17/12).

Berikut isi lengkapnya:

Apa yang telah terjadi di Aleppo bukan lagi menjadi rahasia umum di antara kita.

Memang kita masih terkejut oleh gambar dan video yang kita lihat. Kita pun tahu itu hanyalah gambaran yang sangat kecil dari apa yang sebenarnya terjadi di Aleppo secara menyeluruh, sebuah cerita yang lebih menakutkan.

Di depan itu semua, kita kecewa dan tak berdaya, tetapi tentu itu tidak kita butuhkan saat ini. Kami mengatakan, itu sudah terlalu terlambat untuk Aleppo, dan sayangnya itu benar. Karena itu, marilah setidaknya kita berbuat untuk menyelamatkan mereka sehingga dapat melarikan diri dari upaya pembantaian dan mengevakuasinya ke Utara Aleppo dan Idlib.

Meskipun tidak ada yang dapat membawa kembali apa yang telah hilang dari mereka, setidaknya kita dapat membantu mereka bertahan hidup, terutama saat melalui hari-hari di musim dingin, dengan harapan yang konstan bahwa hari yang lebih baik akan segera tiba.

Mari kita lakukan ini dengan cepat.

Kami dengan ini berbagi dengan anda apa hal yang paling mereka butuhkan, dan melihat ke depan untuk bekerja sama dengan tujuan menyelamatkan Kemanusiaan.

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…