Skip to main content

Lawan Riba,Takdir Muslim adalah Memperoleh Kemenangan





Rahasia ini sangat diketahui  oleh seluruh dunia Barat bahwa Kapitalisme telah gagal. Kita hanya menunggu pemberitahuan resminya. 


Mayoritas waga di AS dan Eropa telah menyatakan uang kertas, dolar AS dan Pound Inggris, sebagai pengelabuan.  Betapa kejamnya ketika orang-orang  Eropa saja menolak uang kertas, tidak satu persen pun Muslim melakukannya.

Barat telah memperbudak seluruh dunia begitu lama. Setelah letih dan muak dan dengan pertumpahan darah di mana-mana di Eropa sesudah PD II, mereka mulai memerdekakan negara-negara jajahan mereka. Tapi, kebebasan itu, membawa tiga syarat:

Pertama, negeri-negeri baru ini harus menyusun konstitusi.  Hari ini keseluruhan negeri ini memiliki konstitusi yang hampir serupa.

Kedua, setiap negara harus mendirikan bank sentral yang akan mencetak alat tukar berupa uang kertas. Dan hari ini, uang keras ini bahkan dianggap sebagai elemen kebebasan, membawa nama negara  bersangkutan dan gambar pendiri-pendirinya.

 Ketiga, setiap negara akan mengambil utang nasional. Setiap warga negara tidak menyadari utang yang ikut ditanggungnya. Prinsip hutang seharusnya adalah seseorang memintanya, tapi dalam utang nasional ini utang dipaksakan dibebankan kepada rakyat, dan nilainya terus-menerus membesar setiap harinya.

Setiap bayi yang baru lahir langsung ikut menaggung utang di pundaknya. AS sendiri menaggung utang nasional sebesar 1,5 miliar dolar yang tidak akan mampu mereka bayar dalam empat abad ke depan.   Semua utang ini ada dalam uang kertas.

Ini adalah sampah yang dianggap sebagai kekayaan dalam saku Anda. Tetapi Anda tidak menyadari kekayaan saku Anda terus dirampok. Gedung di sebelah sana [Bank Sentral] menerbitkan berbagai lembar kertas dalam kecepatan tinggi, dan dalam waktu sekejap uang ratusan ribu Anda dalam sekejap berkurang tinggal menjadi lima pulu dolar.

 Sementara kalau Anda memiliki Dianr emas di saku Anda  tak ada satu orang pun yang bisa mencurinya dan tidak ada seorang pun yang bisa mendavaluasinya.  Nilai juga tidak akan merosot hanya karena seseorang mencetak uang kertas lebih banyak.

Selama pemerintahan Muslim selama 1400 tahun, selama kita mengikuti ajaran Rasulullah SAW, selama itu pula tidak ada inflasi maupun pengangguran. Di masa Nabi SAW Anda dapar membeli seekor ayam seharga 1 Dirham. Hari ini seekor ayam masih berharga 1 Dirham.

Dalam Islam pasar merupakan lembaga mandiri yang sangat dihormati. Tidak seorang pun dapat memonopolinya. Tidak super mal maupun pasar saham. Tidak ada seorang pun yang memaksa selembar kertas untuk membayar sesuatu. Anda dapat membayar dengan berbagai cara.

Dalam Islam para amir dan sultan bertanggung jawab  mencetak Dirham dan Dinar, tapi tidak boleh memaksakan penduduk untuk bertransaksi hanya dengan Dinar atau Dirham. 


Dan atas dasar kebebasan ini perdagangan berkembang dan pengangguran dihilangkan. Dalam model ini tidak akan terjadi hanya satu super mal atau pusat perbelanjaan mengambil keuntungan dari seribu kedai.

Dalam model ini, yang disebut muamalah, inflasi tidak dikenal dan karena itu tidak perlu untuk mengatasinya setiap hari. Inflasi tidak dikenal dan tak perlu janji-janji untuk mengendalikannya. 


Spanyol, negeri saya, jauh lebih kaya dari Pakistan,  tapi memiliki tingkat pengangguran 20 persen.  Hal seperti ini tidak pernah terjadi selama 1300 tahun kurun kekhalifahan Islam. Umat Islam sangatlah penting bagi Barat.

Kalau saja kita tidak menjual minyak kita dengan kertas tak berharga ini, dan meminta Dinar emas sebagai gantinya, maka ‘pembangunan Barat’ itu akan gagal. Tapi ini tidak bisa dilakukan lewat pemerintah. Mereka tidak akan membiarkan ini terjadi.

Saya telah bertemu PM Turki,  Necmetin  Erbakan, dan dia siap untuk mengadopsi Dinar dan Dirham, dan pemerintahannya dijatuhkan. Kolonel Qaddafi mempromosikan misi ini, dan dia dibunuh dengan keji.

Tapi Anda semua dapat malkukan ini. Kita akan mencetak Dinar dan Dirham. Anda harus mengalihkan tabungan Anda dengan Dinar dan Dirham. 

Tarik uang Anda dari bank-bank berbunga. Kita akan edarkan Dirham dan Dinar melalui kedai-kedai penukaran, semudah Anda mencari pulsa telapon. Kita telah melakukan hal ini di Negara Bagian Kelantan, Malaysia.

Kita akan ajak para pedagang, pemilik kedai, untuk menempelkan stiker bertuliskan “Kami Menerima Dinar dan Dirham’. Ini mirip dengan stiker “Kami Menerima Kartu Kredit”. 

Anda harus berganti dari kekayaan plasti ini kepada kekayaan riil, Emas dan Perak.
Lahore dan  Pakistan  merupakan tanah harapan bagi saya.

Mentor  saya dan banyak orang salih lainnya telah memberikan indikasi  positif tentang hal ini.

Selalu ingatlah Allah SWT tidak pernah menyatakan perang terhadap perzinahan atau minuman keras, terhadap pembohong, dan pencuri. Tetapi, terhadap riba, Allah SWT dan Rasulnya telah menyatakan perang terbuka.  Dan peperangan yang dinyatakan oleh Allah SWT pastilah akan menempatkan kita sebagai pemenang.

Inilah takdir kita. Dan tidak seorang pun dapat menghentikannya. (zb)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…