Skip to main content

Kriminalisasi Panji Rosulullah, Peserta Aksi 212 (Umat Islam) Harus Melawan - Cybertroop Jangan Diam, Sebar


Petugas kepolisian menunjukkan sejumlah barang barang yang diamankan saat penangkapan para terduga teroris Bekasi, di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (15/12). Narasi tunggal ini menyisakan pesakitan hati umat Islam yang mendapam. Karena dalam paparan itu, Panji Rosulullah Ar Rayah menjadi barang bukti dugaan terorisme.

Kalau urusan barang bukti lain, sebenarnya secara umum tidak bersoal, tapi soal Panji Rosulullah Umat Islam harus melawan dan mempersoalkannya apalagi peserta aksi 411 dan 212 yang secara bangga kemaren mengibarkan panjir Rosulullah dalam simbol persatuan umat Islam sekaligus simbol perjuangan umat Islam.

Tentu saja kita masih ingat soal Bagaimana dengan bangganya para peserta aksi mengibarkan panji rosulullah dan kini amat disayangkan panji  Rosulullah Ar Rayah di sejejerkan dengan barang barang yang dinista karena tindakan kejahatan. Ini sama saja kepolisian membangun framing bahwa panji Rosulullah itu panji yang di bawa oleh pelaku tindakan kejahatan.
Ini yang disebut mengkriminalisasi Panji Rosulullah, menghina Syariah dan memancing perlawanan. Bagaimana tidak, Karena penujukkan barang bukti itu sama sekali tidak relevan dengan dugannya. Dugannya adalah terorisme sebuah tindakan kejahatan sementara Panji rosulullah menjadi identik dengan mereka yang melakukan tindakan kejahatan. - karenanya wajar kalau kepolisian kerap berharapan dengan Umat islam. Sengaja atau tak sengaja sering menyakitkan hati umat Islam.

Dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita, sebagai barang Bukti


a.      benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;
b.      benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;
c.      benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana;
d.      benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;
e.      benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan,

Jika demikian halnya Apakah Panji Rosulullah relevan dengan tuduhannya? bagaimana mungkin Ar Rayah adalah bagian secara langsung atau tidak masuk dalam bagian upaya tindakan kejahatan dalam hal ini terorisme? Dapatkah Panji Islam menjadi meledak dengan sendirinya atau di racik dengan bahan peledak lain kemdian meledak dengan ledakan yang berbeda?

Oleh karena itu , 1001 Alasanpun tak layak Panji Rosulullah di Kriminalisasi demikian. Bukan soal cacat secara prosedural dan bernuansa politis dan kebencian pada Islam. Namun secara teknis juga kita harus koreksi atas paparan itu.


Kenapa kalau terduga pembunuhan/korupsi lalu di ciduk di rumahnya misal di rumahnya ada bendera Indonesia lalu bendera itu tidak di jadikan barang bukti? Atau terduga polisi melakukan pencabulan lalu baju kepolsian tidak di paparkan menjadi barang bukti?

Kenapa dalam kasus teroris Bekasi ini tidak sekalian saja Musholanya di angkat, Rumahnya di angkat, kulkasnya di bawa, kompor, tilam, pakaian, lemari, sikat gigi, sabun dan semuanya di tahan kalau mau lebih komplit menjadi barang bukti?

Tentu saja jawabannya adalah karena barang bukti itu harus di sita yang relevan dengan dugaannya - baik secara langsung atau tidak.

Jika semua semua mau menjadi barng bukti, harusnya kepolisian melakukan penyitaan semuanya - termasuk celana dalam pelaku.

Akhirnya, kita dapat katakan nuansa kriminalisasi simbol islam cukup nyata dalam paparan kepolisian kemaren. Panji Rosulullah di bentangkan dalam paparan menjadi bukti kalau kepolisian memang sedang membangun frame bahwa panji Islam yang dibawa umat Islam 212 kemaren adalah simbol terorisme.

Ingat, Umat Islam tidak akan pernah Ridho jika Agamanya, Rosullnya, dan Syariahnya di lecehkan oleh siapapun. (UI)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…