Skip to main content

Klarifikasi Metro TV tidak menambah apapun kecuali kebodohan mereka


Metro TV Kebakaran Jenggot, beberapa hari ini mereka memberitakan nilai buruk dari aksi 212. Terbaru mereka menayangkan kembali Video Full pemberitaan di Hari H (212) Soal Jumlah Aksi yang mereka sebut 50ribu 04 Desember 2016 16:43 WIB. Setelah sebelumnya mereka juga mengutip pendapat pendapat yang menyebutkan mereka tidak melakukan pembohongan Publik.

Dalam klarifikasi itu mereka ingin menjelaskan kalau mereka tidak melakukan Pembohongan Publik. Seperti di ketahui, Metro menyebutkan dalam berita sebelumnya di Hari H (212) bahwa jumlah massa sudah menyentuh 50ribu dan Massa yang akan hadir jutaan.

lantas kemudian di dalam video itu, terdengar teriakan takbir – peserta aksi mendekat akhirnya reporter metro tv menyebut bahwa peserta aksi dari subuh sudah hadir Jutaaan. Seperti ketakutan atas kesalahan Metro Tv melalu reporternya Rifai menyebutkan peserta aksi Jutaan yang sudah hadir sejak subuh.

Tentu saja hal ini kebodohan dari Metro TV. Bagaimana tidak – sudah tau bahwa video itu adalah bentuk tudingan pembohongan publik – namun metro tetap menampilkan kembali seakan itu bukan pembohongan publik. Mencoba mengedukasi masyarakat namun mereka kembali mengulang video itu – lantas malah membangun framing ancaman terhadap para pendemo yang melakukan kontak fisik pada reporter mereka. Framing metro tv jelas di awal ingin mengabaikan jumlah rill jutaan dengan sebut massa tembus 50rb – mengutip dari narasumber yang tidak disebutkan namanua

Disisi lain, saat itu diketahui bahwa Reporter Rifai sedang berdiri di sekitaran patung Kuda. Dengan penampakan massa yang sudah membludak di patung Kuda – bagaimana mungkin lantas di Monas Kosong?

sungguh pemberitaan klarifikasi Metro TV adalah tambahaan kebodohannya. Tidak hanya itu, metro tv atas tudingan pembohongan publik juga coba di lawan oleh mereka dengan memberitakan dan mengutip wawancara dari Dewan Pers Imam Wahyudi. Tapi kembali tak sesuai dengan harapan malah Imam wahyudi menyebutkan kalau dalam situasi ini (aksi 212) tidak relefan Metro TV menyebutkan Jumlah. ” Saya menilai dalam seituasi seperti ini reporter tidak layak menyebutkan Jumlah, karen gambar sudah menyebutkan itu” paparnya.
Imam wahyudi juga menyampaikan kalau seharusnya mengintropeksi diri kenapa hal itu hanya terjadi pada stasiun tertentu saja (metro tv). (ui)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…