Skip to main content

[Kisah Nyata] Mereka yang Nasibnya Membaik setelah Ikuti Aksi Bela Islam


Terkesan seperti kebetulan, tapi tidak ada kebetulan di dunia ini. Ada Allah Ta'ala Yang Mahakuasa. Yang Maha Mengatur. Yang Maha Berkehendak. Dialah sebaik-baik Pencipta dan Pengatur atas semua makhluknya.

Aksi Bela Islam yang dilakukan sebanyak tiga kali bukanlah sebuah kebetulan. Ianya merupakan momentum. Ianya adalah kejadian yang berada di dalam Kekuasaan Allah Ta'ala Yang Mahakuasa.

Laki-laki ini kerap dipanggil Ompong, bukan nama sebenarnya. Satu pekan sebelum Aksi Bela Islam II atau Aksi 411, ia bertandang ke rumah keluarga kami di Buaran Indah Kecamatan Tangerang Kota Tangerang Banten.

Ia yang memiliki ikatan pertemanan dengan salah satu saudara kami hendak mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Bertanya pekerjaan. Mencari berbagai peluang yang mungkin. Ia memiliki keterampilan sebagai pengendara mobil. Sopir.

Oleh saudara kami, Ompong diminta tinggal. Sehari-hari bersama kami. Sesekali diajak adik ipar untuk mengendarai mobilnya dalam banyak urusan bisnis. Ia juga sering terlibat dalam diskusi-diskusi kami tentang kondisi terkini, termasuk Aksi 411 yang akan dihelat satu pekan yang akan datang, saat itu.

Sehari sebelum 411, Ompong kami ajak.

"Ayo ikut. Kapan lagi bisa ikut aksi bela Islam,"

Ompong hanya tersenyum manis. Tanpa banyak kata. Esok harinya, ia beranjak bersama 2 anggota keluarga kami, saudara ipar dan anak kami.



Rombngan itu bergabung dengan jutaan kaum Muslimin yang melakukan longmarch. Lantaran penuh, mereka tak bisa bergabung dengan jamaah di Masjid Istiqlal, tetapi langsung berjalan menuju arah Istana Negara. Di sana, mereka ikut berdzikir, bertakbir, dan meneriakkan yel-yel yang membangkitkan semangat kebangsaan dan pembelaan terhadap Islam.

Sebagaimana jamaah lain, rombongan mengikuti acara hingga malam hari, saat pihak keamanan menghujani peserta dengan gas air mata. Mereka pulang setelah ikut merasakan pedih dan perihnya gas air mata.

Ke Tangerang dengan menggunakan taksi.

***

Sepekan kemudian.

Ompong belum kelihatan. Kami sempat bertanya-tanya. Adakah yang menimpanya hingga tak kunjung datang ke rumah. Hingga tibalah hari kedatangannya, di akhir pekan.

Ia datang dengan pakaian yang rapi. Kunci mobil ada di tangannya.

"Saya diundang oleh tetangga yang awalnya pelit. Dia memberi pinjaman untuk pelunasan kredit motor yang nunggak dua bulan. Setelah itu, dia juga memberikan mobil ini untuk dipakai mendaftar sebagai pengemudi mobil aplikasi online. Ini kuncinya." ujar Ompong, kami melongo mendengarkan kisahnya.

"Sepulang aksi, istri tidak marah-marah lagi. Saya sampai bingung. Dan kemudian berani mengatakan, semoga ini merupakan pertolongan Allah Ta'ala karena saya berniat ikhlas mengikuti aksi bela Islam," pungkas Ompong.

Ia pun 'ketagihan' dan ambil bagian penting dalam Aksi Bela Islam III di Monas Jakarta pada Jum'at (2/12/16) atau Aksi 212. [Tarbawia/Om Pir]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…