Skip to main content

Kepercayaan Masyarakat Sudah Hilang,LSI: Permintaan Maaf Ahok Sulit Naikkan Elektabilitas



JAKARTA - Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan elektabilitas pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat mengalami peningkatan dari November ke Desember 2016. Salah satu hal penyebabnya, karena Ahok telah meminta maaf dalam kasus Al Maidah ayat 51.

"Ini pertama kalinya Ahok-Djarot rebound," ujar peneliti LSI Adjie Alfaraby saat konferensi pers di kantor LSI, Jakarta, Rabu (14/12).

Berdasarkan survei LSI,  sejak Maret hingga November elektabilitas Ahok-Djarot terus merosot, yakni 59,3 persen pada Maret, lalu menurun pada Juli menjadi 49,1 persen, Oktober 31,4 persen, dan November 24,6 persen. Namun elektabilitas tersebut sedikit naik di Desember. LSI melihat ada tiga alasan elektabilitas Ahok naik. Pertama, karena Ahok berubah sikap.

"Ahok terlihat lebih low profile dan menghindari bicara yang kesannya arogan, kasar, dan kontroversi," kata Adjie.

Kedua, permintaan maaf Ahok yang disampaikan berulang-ulang mulai diterima publik, yakni terkait kasus Al Maidah ayat 51. Salah satunya lewat videonya bersama Nusron Wahid. Ketiga, sebagian pemilih menilai Ahok hanyalah korban politisasi agama.

Meski elektabilitasnya naik, namun menurut Adjie hal itu belum cukup untuk membuat Ahok kembali ke posisi nomor 1 dalam dukungan publik. Hal ini, kata dia, terjadi karena dua alasan.

Pertama, karena status Ahok sebagai tersangka. Sebesar 65,0 persen responden menyatakan tidak bersedia dipimpin oleh gubernur berstatus tersangka. Kedua, karena masalah penistaan agama yang melukai mayoritas pemilih Muslim. Sebesar 64,7 persen menyatakan Ahok bersalah dalam kasus Al Maidah ayat 51.

Pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta tinggal 63 hari lagi. Adjie mengatakan dengan elektabilitas masing-masing pasangan calon yang tidak berbeda jauh dan pemilih yang belum memutuskan (undecided voters) masih cukup besar (15 persen), maka posisi dan elektabilitas calon masih mungkin berubah.

Menurutnya, perubahan atau stagnasi elektabilitas masing-masing calon sangat tergantung pada manuver masing-masing pasangan calon. Persidangan kasus dugaan penistaan agama yang sudah dimulai dinilai akan menentukan apakah Ahok akan terlempar di putaran pertama atau lolos di putaran kedua. Namun dua hal diasumsikan. Pertama, kata Adjie, jika sentimen ingin gubernur baru tak berkurang dari 60 persen maka Ahok akan tersingkir di putaran pertama atau kedua.


"Kedua, jika Agus-Sylvi tetap menjaga loyalitas pendukungnya, apalagi tren menaiknya stabil maka pasangan tersebut menjadi peserta pertama yang lolos ke putaran kedua," ujarnya.(rp)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…