Skip to main content

Kapolri: Islam Beri Rahmat bagi Semua Manusia, Tidak Membedakan Suku, Agama dan Ras

ilustrasi

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dihadapan puluhan ribu umat Muslim yang hadir di acara Doa Bersama 1212 dan Milad Ke-26 Pesantren Daarut Tauhid di Lapangan Gasibu Kota Bandung, Senin, mengatakan Islam adalah agama yang memberikan rahmat untuk seluruh umat manusia.

"Islam adalah agamarahmatan lil alamin,memberikan rahmat bagi semua manusia, tidak membedakan suku agama dan ras. Islam bukan untuk orang Sunda, Jawa, Papua, tapi untuk semua umat manusia," kata Kapolri yang langsung disambut oleh gema takbir dari warga yang hadir di acara tersebut.

Ia berharap seluruh umat Muslim yang taat kepada Allah SWT agar bisa betul-betul meyakini agama Islam sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia.

"Walaupun kita hidup di antara perbedaan suku, ras dan agama, tapi kita harus menjunjung toleransi. Islam itu bukan untuk orang pribumi atau keturunan tertentu tapi Islam itu untuk seluruh umat manusia," kata dia.

Kapolri juga mengajak seluruh umat Muslim untuk menghormati Perayaan Hari Raya Umat Kristiani yakni Natal yang akan berlangsung dalam beberapa hari lagi.

"Sebentar lagi ada Natal dan Tahun Baru, saya titip pesanlakum dinukum waliyadin.Jadi silakan kita melaksanakan kegiatannya sesuai kepercayaan dan agama kita masing-masing. Kita jaga toleransi," kata dia.

Pada kesempatan tersebut, ia mengaku takjub dengan pelaksanaan Doa Bersama 1212 dan Milad Ke-26 Pesantren Daarut Tauhid yang berlangsung aman, lancar dan menyejukkan.

"Jadi membandingkan dengan doa bersama 212, hari ini udaranya sejuk. Kalau kemarin di Jakarta udaranya panas kemudian hujan. Di sini sejuk acaranya sejuk. Saya berharap sebagi polisi, mudah-mudahan Indonesia bisa sejuk seperti Bandung," kata dia.

Sumber: covesia

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…