Skip to main content

Kapolri: 212, Tak Ada Satu Cabang Pohon pun yang Patah karena Aksi Damai


Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap aksi damai bela Islam III di Monumen Nasional Jumat (2/12) hari ini betul-betul berlangsung damai dan khidmat. Ia menyebut aksi tersebut benar-benar murni kegiatan ibadah mulai dzikir, shalat Jumat hingga doa bersama.

"Sekali lagi ini kegiatan ibadah yang suci, ditandai dengan, saya dapat laporan dari DKI, tidak ada satu pohon pun yang patah, tidak ada satu cabang pun yang patah," ujar Tito saat mengunjungi aparat keamanan di Kompleks Gedung MPR/DPR, Jakarta Selatan, Jumat (2/12).

Bahkan kata Tito, peserta aksi damai yang melaksanakan kegiatan ibadah betul-betul menjaga pohon dan tanaman agar tidak rusak. Karenanya, Tito pun mengapresiasi seluruh peserta maupun panitia aksi damai yang menjaga betul aksi berlangsung damai.

"Kepada masyarakat yang datang ke Monas dan sekitarnya, ampai ke jalan Thamrin, kemudian ke daerah Gambir, Masjid Istiqlal, ini semua Alhamdulillah berlangsung dengan betul-betul damai," katanya.

Ia juga mengucapkan apresiasi dan terimakasih terhadap aparat gabungan TNI dan Polri yang mengawal aksi damai dan melayani masyarakat dengan baik.

"Saya ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada anggota Polri/TNI, yang telah melakukan tugas dengan sangat baik, sesuai dengan SOP melayani masyarakat, dan secara khusus bapak panglima tni yg telah luar biasa bekerja sama sehingga pasukan TNI/Polri berada dalam ikatan yang sangat kuat," ungkapnya.

Tak hanya itu, ia juga memberi apresiasi kepada media dan pemberitaannya yang menurutnya membuat suasana aksi damai tetap sejuk dan berlangsung damai. (rol)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…