Skip to main content

Jurnalis MetroTV Janes C.Simangungsong Dilaporkan ke Polisi Atas Ujaran Kebencian


 - Hari Rabu (8/12/2016) kemarin, Front Betawi Rempug (FBR) Jakarta resmi melaporkan jurnalis dan produser MetroTV Janes C. Simangungsong ke Polda Metro Jaya atas tuduhan ujaran kebencian dan provokasi di media sosial.

“Kami meminta sebuah keadilan. Ini bentuk provokasi dan ujaran kebencian,” kata ketua FBR DKI, Irfan RD saat melaporkan kepada tim penyidik Reskrimsus Polda Metro Jaya, seperti dikutip Jurnalislam.

Pantauan Islamic News Agency (INA) di ruang pengaduan, FBR ditemani seorang Advokat, Azam Khan dan membeberkan kesalahan terlapor.

Irfan menegaskan, pihaknya tengah berusaha untuk meredam amarah umat Islam dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib.

“Tadinya, FBR bersama FPI mau mendatangi (kantor) Metro. Tapi ada jalur ini (jalur hukum), kita tunggu dari media penyidik,” tegas pria berkacamata itu.

Menurutnya, kondisi umat Islam saat ini pada kondisi sensitif. Sedikit saja percikan bisa menjadi bola salju.

“Jangan sampai umat bergerak sendiri-sendiri,” tuturnya.

Namun demikian, tim reskrimsus belum dapat menerima laporan itu. Sebab ada beberapa hal yang harus dilengkapi.


 “Tapi tetap, kita akan bekerja profesional serta akan membuatkan LB dan menyerahkan berkas ke Cybercrime jika berkas sudah dilengkapi,” kata salah seorang tim penyidik Reskrimsus Polda Metro Jaya, Musa.

Lebih lanjut FBR akan secepatnya melengkapi berkas dan memberikannya kepada Reskrimsus agar Janes cepat ditindak.

Seperti ramai di sosial media, produser MetroTV Janes C. Simangungsong melalui akun twitternya @janes_cs menyebut para pengkritik Metro TV dengan umpatan "otak udang".

Netizen lalu menyelidiki isi twit-twit Janes C. Simangungsong yang ternyata penuh dengan kebencian dan kata-kata jorok.

Sumber : jurnalislam

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…