Skip to main content

Jokowi Bakal Terjungkal jika Remehkan Ancaman Revolusi Habib Rizieq



ANALISIS – Geger dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masih bakal terus berlanjut menyusul ancaman terbaru dari Imam Besar FPI Muhammad Rizieq Shihab yang bakal menginisiasi revolusi jika gubernur Jakarta itu tidak masuk penjara.
Jokowi tidak boleh meremehkan ancaman pria yang akrab disapa Habib Rizieq itu. Pasalnya, saat ini pamor pria berdarah Arab itu tengah naik daun. Suara yang digaungkan Rizieq beresonansi tidak hanya pada massa Front Pembela Islam tetapi juga massa Islam secara umum.
Jika demontrasi kolosal dengan massa jutaan seperti demo 411 atau 212 menyasar Gedung DPR/MPR dengan menuntut pemakzulan terhadap rezim, sangat mungkin Jokowi terguling, atau minimal berdampak besar secara politik dan ekonomi. 
Demonstrasi secara terus-menerus pasti menggerus legitimasi pemerintahan.
Habib Rizieq, yang sekarang mendadak menjadi idola kaum muda Islam, tentu tidak akan menyia-nyiakan momentum. Belum pernah massa Islam sekompak ini di rezim-rezim sebelumnya.
Jika melihat fakta di lapangan, unsur-unsur organisasi Islam mulai menunjukkan kebulatan suara: FUI, FPI, DDII, GNPF, Persis, dan PUI. Muhammadiyah pun tampak menunjukkan dukungan secara kelembagaan, meskipun masih samar-samar. 
Sementara itu, NU secara organisasi belum bersuara, tetapi sejumlah tokoh dan massa di level bawah sudah ikut dalam barisan pimpinan Rizieq.
Jadi, gelegar mereka hanya menunggu satu langkah lagi. Gongnya ada di NU, jika mereka secara formal menyatakan mendelegitimasi pemerintah, karir Jokowi sebagai presiden bisa tamat kapan pun.
Dukungan untuk gerakan Rizieq di luar ormas Islam
Parpol seperti PKS pasti siap sedia menjadi beking gerakan massa seperti yang digelorakan Habib Rizieq. Rizieq cs tampak sudah menemukan musuh bersama untuk dilawan.
Kawanan apa pun bisa bertarung satu sama lain. Namun, jika ada musuh dari luar, mereka bisa merapatkan barisan dan melawan secara bersama-sama. Direncanakan atau tidak, Ahok—dan bisa melebar ke Jokowi—sudah berhasil dijadikan musuh bersama, dalam konteks ini.
Kelompok agamawan, pernah memiliki pengalaman menginisiasi gerakan delegitimasi terhadap pemerintahan di era Susilo Bambang Yudhoyono. 
SBY mendapat ancaman penggulingan pada 2011, melalui cap Rezim Pembohong. Namun, inisiasi untuk menggoyang kedudukan SBY kandas. 
Saat itu, sejumlah rentetan demo hanya diikuti beberapa ribu orang, termasuk yang fenomenal dengan membawa kerbau yang di badannya dicat tulisan “SiBuYa” dan dibokongnya ditempel gambar SBY dengan tulisan “Turun!!!!”. 
Gerakan ini melempem, mengecil dan berakhir hanya di pangung-panggung seni dengan teatrikal satir.
Rizieq cs pasti belajar dari kegagalan di masa lalu, jika benar-benar berniat melakukan revolusi. Mereka pasti memiliki strategi dan rencana lain yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Gerakan Rizieq pastinya lebih berbahaya bagi rezim, ketimbang gerakan sebelumnya oleh sejumlah tokoh agama dan politik di era SBY. 
Alasan yang paling utama adalah Rizieq, dan ulama-ulama lain, tidak hendak melakukan revolusi dengan niat menjadi presiden. 
Di sini justru letak kekuatan gerakan ini. Bagi mereka, yang penting pemerintah mendengar suara umat Islam.
Lawan-lawan politik Jokowi yang selama ini hanya manis di muka bisa berbalik menjadi motor perlawanan. 
Politik adalah seni melihat peluang, laiknya bisnis; jika peluang itu ada pada gerakan Rizieq, apa susahnya mereka berpaling.
Di luar itu, TNI, yang sebelum demo 212 satu per satu disambangi Jokowi, pun bisa memberikan lampu hijau. Terlebih jika gerakan pimpinan Rizieq ini menyerahkan kursi presiden ke unsur militer. 
Hal ini bukan tidak masuk akal, karena jika mengamati pendukung gerakan ini, posting-posting di akun medsos mendukung figur militer seperti Gatot Nurmantyo atau Prabowo Subiyanto untuk menduduki presiden sangat massif.
Jadi, jika ingin selamat, Jokowi harus berpikir masak-masak menanggapi ancaman Rizieq. Banjir bandang di musim hujan selalu dimulai dengan satu tetes air. 
Gerakan Rizieq ada gejala seperti air tersebut, yang datangnya diawali dengan gerimis, membesar dan deras lalu menjadi badai atau membawa banjir yang dapat menyapu pemerintahan Jokowi.(rima)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…