Skip to main content

Jangan Kaget, Tiga Pilar Islam Ini Selalu Jadi Objek Pelecehan Hingga Akhir Kiamat




Direktur PP Isy Karima: Jangan Kaget, Tiga Pilar Islam Ini Selalu Jadi Objek Pelecehan Hingga Akhir Kiamat

SOLO -Pelecehan Surah Al Maidah ayat 51 oleh Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dinilai memiliki hikmah besar untuk umat Islam Indonesia. Menurut Direktur Pondok Pesantren Isy Karima, Syihabuddin Al Hafidz kasus tersebut telah mempersatukan kaum Muslimin Nusantara.

Selain itu kasus pelecehan terhadap Alqruan menjadi langkah baru bagi umat Islam Indonesia untuk maju. "212 kemarin itu baru merupakan ruh Al Maidah 51, belum seluruh ayat di Alquran.

 Ada hikmah di situ, dengan ini umat Islam menjadi kokoh, termasuk kita bisa berkumpul untuk melakukan kajian keislaman dan shubuh berjamaah," tutur Syihabuddin saat mengisi kajian keislaman dalam pembukaan aksi subuh berjamaah 1212 di Masjid MUI Semanggi Solo pada Ahad (11/12) malam.

Ia berkata pelecehan terhadap Alquran telah terjadi sejak kitan suci umat Islam itu pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena itu, kata dia, umat Islam tak perlu merasa kaget akan hal tersebut.

"Jangan kaget, dalam An Naba mereka bertanya-tanya (tentang berita besar), tentang apa itu? Alquran, kerasulan, dan yaumul kiyamah. Tiga pilar ini akan sudah jadi objek pelecehan dari zaman Rasul hingga akhir kiamat nanti," ucap dia.

Dengan kejadian beberapa waktu lalu itu, dia berharap umat muslim agar kembali mempelajari Alquran. Ia berkata, dengan kaum Muslim terus mempelajari serta mengamalkan Alquran menjadi kekuatan untuk maju.

"Alquran mempercepat akselerasi kemenangan, dan ini yang ditakuti mereka (orang-orang yang membenci Islam)," tuturnya.

Di lain sisi, dia juga mengajak umat muslim Indonesia untuk menjadi kaum yang dicintai Allah sebagaimana tertuang dalam petikan surah Al Maidah ayat 54. Yakni umat muslim yang memiliki kelembutan dan terus istiqomah berjuang di jalan-Nya.

Sekitar seribu umat Muslim Solo mengikuti kajian keislaman yang diselenggarakan Dewan Syariah Kota Solo (DSKS) bersama MUI Kota Solo. Kajian tersebut merupakan pembuka dari rangkaian aksi subuh berjamaah 1212.


Kegiatan akan dilanjutkan dengan iktikaf dan sholat malam. Puncaknya pelaksanaan sholat subuh berjamaah serta diakhiri dengan sarapan pagi bersama.(rp)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…