Portaldunia.com - Seperti diduga banyak pihak sebelumnya, persidangan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) akan dipenuhi tontonan sandiwara.

Dalam sidang perdananya, Selasa (13/12), sudah terlihat Jaksa Penuntut Umum (JPU) membaca surat dakwaan super cepat, sementara kubu pengacara Ahok mendapat kesempatan menyampaikan nota keberatan dan berbicara berjam-jam di persidangan.

Demikian disampaikan pemerhati politik dan hukum, Martimus Amin kepada wartawan di Jakarta, Selasa, menanggapi sidang perdana Ahok.

Jelas Martimus, memang sejak semula rezim tidak pernah memikirkan apalagi serius mengadili Ahok. Hanya desakan jutaan umat Islam saja Ahok 'terpaksa' ditersangkakan.

"Bayangkan kalau tidak ada aksi umat Islam, betapa jumawanya Ahok semakin melecehkan agama Islam dan rakyat Indonesia, yang selama ini telah dilakukan secara sistematis," ujar Martimus.

Ia menambahkan, sikap Jaksa Agung HM. Prasetyo sama seperti Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian yang sejak awal terbaca melindungi Ahok.

Mantan Jaksa Agung Basri Arief pernah menyatakan bahwa Jaksa Agung yang dipimpin Prasetyo saat ini harus diganti, karena Prasetyo tidak dapat diharapkan bertindak netral. Prastyo adalah bekas pengurus Partai Nasdem alias 'jongos' Surya Paloh.

"Komentarnya Prasetyo ke publik saja menanggapi pelimpahan kasus Ahok sangat menjengahkan. Prasetyo menyatakan agar Ahok jangan dinilai bersalah dulu. Pernyataan Prasetyo ini tidak mencerminkan tugasnya sebagai jaksa," lanjut Martimus.

Lalu, lanjut dia, pernahkah terdengar komentar Presiden Jokowi terkait kasus Ahok untuk secara tegas diadili? Malah yang diketahui Kepala Negara hanya bisa cecangas cecanges. Setiap menyebutkan nama Ahok, tambah Martimus, kerongkongan Jokowi tersekat dan tubuhnya gelagapan gemetaran. Padahal kasus penistaan Ahok ini telah menimbulkan keresahan dan gejolak yang massif di masyarakat.

"Hanya penangkapan aktivis dengan tuduhan makar dan bom panci saja yang hebat dilakukan pemerintah, bukan untuk kasus ahok," tukas Martimus

Sumber: Rmol
Share To:

Portal Dunia

Post A Comment: