Skip to main content

Innalilahi...Pesawat Pakistan Hilang Kontak Saat Terbang


Sebuah pesawat milik maskapai Pakistan International Airlines (PIA) yang membawa lebih dari 40 orang, hilang kontak saat terbang ke Islamabad. Dikhawatirkan, pesawat penumpang ini jatuh di suatu lokasi.

Dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Rabu (7/12/2016), pihak maskapai PIA menyatakan pesawat dengan nomor penerbangan PK-661 itu hilang kontak dengan pihak Air Traffic Control (ATC) pada Rabu (7/12) sore waktu setempat. Pesawat dengan rute domestik itu terbang dari kota Chitral menuju ibu kota Islamabad. PIA sendiri merupakan maskapai nasional Pakistan.

Terdapat perbedaan laporan soal jumlah penumpang dan awak di dalam pesawat itu. Stasiun televisi Geo News dan Dawn News melaporkan ada 47 orang di dalam pesawat itu. Sedangkan juru bicara PIA, Danyal Gilani, seperti dlansir AFP, menyebut ada 37 penumpang plus beberapa awak dalam pesawat itu.

Gilani menyatakan, status saat itu menyebut pesawat dinyatakan hilang. Namun secara terpisah, pejabat kepolisian senior Provinsi Khyber-Pakhtunkhwa, Laiq Shah, menuturkan kepada Reuters bahwa pesawat itu jatuh di wilayahnya, dekat kota Havelian. Tim penyelamat tengah bergerak ke lokasi.

Kendati demikian, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Pakistan soal kondisi pesawat itu. Sumber otoritas penerbangan sipil Pakistan, seperti dikutip Geo News, menyebut pesawat itu hilang kontak sekitar pukul 16.30 waktu setempat, atau sesaat setelah lepas landas dari kota Chitral.

Sumber: medanbisnis

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…