Skip to main content

Inilah Bukti Ahok Berdusta Sebut Pengangguran Jakarta Menurun

Portaldunia.com - Klaim Gubernur DKI non aktif Basuki T. Purnama soal menurunnya angka pengangguran di DKI Jakarta selama kepemimpinannya dibantah pengamat politik dan pemerintahan, Muchtar Effendi Harahap.

Ahok dalam sebuah debat yang difasilitasi TV swasta menyebutkan bahwa ketika dirinya menjabat sebagai Gubernur DKI, angka pengangguran turun 5,7 persen. Meski diakuinya, angka itu masih lebih tinggi dari angka pengangguran nasional, yakni 5, 5 persen.

Muchtar menegaskan, Ahok tidak memahami kritik yang terus bermunculan secara menyeluruh. Ahok, tidak lebih baik dari eks Gubernur DKI, Fauzi Bowo alias Foke.

Bukan tanpa alasan, berdasarkan data BPS DKI mengenai tingkat pengangguran 12,15 persen pada 2009. Lalu menurun jadi 11,05 persen pada 2010. Selanjutnya jadu 10,80 persen pada 2011, dan 9,87 persen pada 2012.

"Tingkat pengangguran ketika Foke(sapaan Fauzi Bowo) memimpin, jauh di bawah rata-rata nasional, yakni 12-14 persen karena Foke berkomitmen meningkatkan kesejahteraan pekerja," jelas Muchtar.

Tak hanya itu, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi Jakarta juga meningkat di era Foke. Pada 2011 laju pertumbuhan ekonomi mencapai 6,71 persen sedangkan rata-rata nasional di angka 6,48 persen.

Sedangkan, angka pengangguran di era Ahok memang menurun dari 9,87 persen (era Foke, 2012) menjadi 9,02 persen pada 2013. Lalu jadi 8,47 persen 2014, 8,36 persen pada Februari 2015, dan 7,23 persen Agustus 2015.

Namun, lanjut Muchtar, sekalipun menurun, menurutnya angkanya masih jauh di atas rata-rata pengangguran nasional.

"Bahkan Kepala BPS DKI Jakarta Nyoto Widodo, Oktober 2014 menegaskan, jumlah angka pengangguran di DKI Jakarta 9,84 persen pada 2014 dan 8,36 persen pada 2015 lebih tinggi dari pada angka pengangguran secara nasional," terang dia.

Muchtar menggaris bawahi bahwa pengangguran DKI dan Banten terbesar di Indonesia. DKI pun dianggap darurat. Sebagian rakyat miskin DKI semakin memburuk dari tahun ke tahun. Berdasarkan data BPS DKI, pertumbuhan ekonomi DKI 2015 hanya 5,88 persen, melambat sejak tiga tahun terakhir (2014 sebesar 6,91 persen).

Kegagalan Ahok dalam mengurangi pengangguran juga disampaikan Wakil Ketua DPD DKI Muhamad Taufik. Dia mengaku bingung dengan klaim Ahok saat debat bahwa pemgangguran menurun. Sebab, jika dilihat dari angka yang dikeluarkam BPS meningkat.

"Saya rasa Ahok berdusta atau gagal paham. Lebih baik akui saja kegagalannya. Dari pada cari kambing hitam," ketusnya.

Menurut Taufik, selama kepemimpinan Ahok warga ibu kota semakin sengsara dan mengalami ketertinggalan serta kesenjangan social yang terlampau jauh anatara si miskin dan si kaya. Karena itu, menjadi sangat ironi ketika suami Veronica Tan tersebut mengklaim angka pengangguran turun.

"Kok tidak malu ya. Buktinya nyata loh," sindir Taufik.

Sumber: Rmol

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…