Skip to main content

Ini Nieh Komentar Pak Tito Tentang Pengalihan Isu...


Akhir pekan lalu, Densus 88 menangkap tiga terduga teroris di Bekasi, Jawa Barat. Tiga orang yang diketahui jaringan Bahrum Naim ini tak main-main merencanakan aksinya.

Dapatkan diskon Rp 300,000 untuk tiket libur Natal & Tahun baru-muBom mirip rice cooker sudah disiapkan. Daya ledak bom itu juga cukup kuat.

Rencananya, bom itu akan diledakkan di Istana Negara. Sebagai eksekutor, seorang wanita dari tiga orang yang ditangkap siap menjadi 'pengantin' bom.

Beruntung aksi teror itu bisa digagalkan. Mereka kini mendekam di tahanan.

Beberapa hari setelah penangkapan itu, beredar pemberitaan yang menyebut penangkapan teroris adalah pengalihan isu kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa, Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama. Kasus itu tengah disidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Ramainya celutukan demikian di sejumlah media membuat Kapolri Jenderal Tito Karnavian, kesal bukan main. Menurutnya, apa yang dilakukan tim Densus 88 tak seremeh itu, dengan maksud menangkap teroris untuk mengalihkan isu kasus Ahok, sapaan Basuki. Murni penangkapan itu bagian dari penegakan hukum.

"Saya jawab dengan tegas ini bukan pengalihan isu. Kenapa, karena satu, saya sudah pengalaman dari tahun 98 menangani kasus seperti ini," tegas Tito di Komplek Mabes Polri, Jakarta, Jumat (16/12).

Dia menyayangkan jika usaha Densus 88 menggagalkan aksi teror dianggap semua pembelokkan suatu kasus. Penangkapan teroris, katanya, bukanlah bagian dari skenario film.

"Rekan-rekan yang ada di Densus ini, Polri ini bukan sutradara. Kami tidak pernah belajar jadi sutradara. Para tersangka yang ditangkap ini juga bukan aktor bukan aktris yang pandai memainkan drama. Dan sistem hukum kita sangat terbuka sekali," ucapnya.

"Jadi sutradara hollywood seperti apapun yang jago, tidak akan mampu merekayasa kasus seperti ini. Ini nanti ancaman bisa kena hukuman mati. Jadi sekali lagi, pengalihan isu tidak ada," sambung Tito penuh geram.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini meminta pihak-pihak yang menuding kerja Densus 88 menangkap teroris sebagai pengalihan isu untuk membuktikan ucapan mereka.

"Anda mengatakan pengalihan isu ada datanya enggak, kalau ada laporkan jangan takut. Akan kita tanyakan, jangan terlalu mudah menyampaikan apa lagi kalau seorang anggota DPR, pejabat menyampaikan pengalihan isu. Bila perlu kami dipanggil Komisi III, kita jelaskan. Jadi jangan lemparkan kepada media begitu saja," ujar Tito.

Jika benar ada rekayasa, dia siap meletakkan jabatannya. Namun lagi-lagi dia meminta harus ada data yang konkret, dia hanya asal ucap.

"Kalau ada data, pelaku mengatakan ada rekayasa, fine, internal kita bila perlu saya pecat. Saya pun akan mengundurkan diri bila saya terlibat merekayasa. Kalau seandainya tidak, tolong pertanggungjawabkan ucapan itu. Saya sendiri kalau ini rekayasa saya siap dicopot. Apa yang kami kerjakan adalah murni dari penyelidikan berbulan-bulan," jelas dia.

Disebut-sebut berita itu diucapkan kader PAN, Eko Hendro Purnomo. Menindaklanjuti kebenaran ucapannya, pria yang akrab disebut Eko Patrio itu telah dipanggil Bareskrim Polri. Tito menyatakan Polri tak main-main dengan hal-hal macam ini.

"Sementara ini kita akan undang. Kita lihat punya data enggak. Enggak main-main kita. Kalau tidak punya data pertanggungjawabkan, bisa pidana bisa juga minta maaf ke publik."

Dalam kesempatan yang sama, Tito menjelaskan Polri tidak butuh pujian atas penangkapan tersebut. Justru, kata dia, pihaknya akan sangat bersyukur bila para teroris bisa ditangkap pihak Densus sebelum melakukan aksi terornya.

"Jadi ledakkan itu tidak terjadi artinya menyelamatkan masyarakat dan kami tidak perlu pujian ini memang tugas kami. Nanti pahala dari yang maha kuasa," ucap dia.

Dia mengapresiasi kinerja dari Densus 88 dan meminta masyarakat tidak mudah terhasut oleh dengan pernyataan-pernyataan pihak yang tidak bertanggungjawab.

"Jadi tolong ya masyarakat jangan mudah terpengaruh mudah berkomentar pengalihan isu. Kalau ada bukti bahwa ini rekayasa, tunjukkan buktinya itu dan kita akan lakukan tindakan tegas."

"Terorisme di Indonesia bukan masalah lokal tapi menyangkut internasional yang ada di Suriah. Kita harap dunia internasional bisa mendamaikan Suriah mendamaikan Irak, kalau semua itu damai aman di Indonesia pun akan tenang," pungkas Tito.

Sumber: merdeka

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…