Skip to main content

Ini Jumlah Akhir Korban Gempa Aceh...


Menginjak hari kesembilan, korban meninggal akibat Gempa Aceh mencapai 103 jiwa. Sebanyak 96 orang ditemukan di Kabupaten Pidie Jaya, dua orang di Pidie, dan 5 korban di Bireuen. Sementara 7 lainnya belum bisa ditemukan karena bukan warga lokal.

Korban luka hingga (15/12) sebanyak 700 orang dengan 168 luka berat dan 532 luka ringan. Semua korban luka telah mendapat santunan dan tak perlu membayar biaya pengobatan. Sebanyak 40 pasien masih dirawat di selasar atau di luar RSUD Pidie Jaya karena bangunan RS rusak. Pasien juga merasa nyaman karena khawatir adanya gempa susulan.

Presiden Joko widodo terus memantau penanganan korban gempa. Evaluasi penanganan dilakukan setiap hari dari tiap klaster nasional misal klaster pengananan pengungsi, kesehatan, dan logistik. "Bantuan harus cepat diberikan supaya kehidupan bisa kembali seperti semula," katanya.

Penyaluran bantuan perbaikan rumah tak perlu menunggu hingga pendataan selesai. Bupati setiap hari menandatangani Surat Keputusan (SK) penyaluran bantuan stimulan renovasi tempat tinggal. SK menjadi dasar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyalurkan bantuan Rp 40 juta untuk rumah rusak berat dan Rp 20 juta bagi kerusakan ringan hingga sedang.

Penyaluran dengan verifikasi harian berbeda dengan mekanisme sebelumnya, yang menunggu pendataan selesai terlebih dulu. Akibatnya penyaluran lebih lambat dengan jumlah rumah rusak terus bertambah. Hingga saat ini ada 16.238 unit rumah yang mengalami kerusakan dengan 2.536 rusak berat, 2.473 rusak sedang, dan 11.329 rusak ringan. Verifikasi rumah rusak ditetapkan bupati setempat.

Sementara jumlah pengungsi hingga sekarang tercatat ada 85.161 jiwa. Sebanyak 82.122 orang berada di Pidie Jaya, 1.295 orang di Pidie dan 1.324 orang ada di Bireuen. Pengungsi di Bireun memilih tinggal di rumah kerabatnya. Sementara pengungsi lain memilih tinggal di pengungsian yang tak jauh daari rumah. Bantuan terus datang dengan penanganan yang cukup baik dari pemerintah pusat, daerah, NGO, relawan, dan masyarakat umum.

Sumber: harnas

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…