Skip to main content

Ingin Temani Istri Nonton Bioskop, Alasan Suami Tunanetra Ini Bikin Haru...

ilustrasi

Trenyuh hati rasanya tatkala membaca kisah tentang seorang suami tunanetra namun masih tetap ingin menemani istrinya untuk menonton film bersama.

Dibagi oleh Myra Mimi melalui halaman Facebook, kejadian tersebut terjadi di Sunway Pyramid, sebuah mal yang terletak di Subang Jaya, Selangor, Malaysia, baru-baru ini.

Menurut Myra, ketika itu dia terlihat seorang pria memakai tongkat berjalan bersama seorang wanita menghampiri bioskop di mal tersebut.

Berdasarkan percakapan mereka, Myza mengetahui si suami ingin menemani istrinya menonton film, biarpun dia tidak mampu melihat.

Pada awalnya, si istri, Suhana (26 tahun) merasa ragu karena gusar orang-orang akan memandang sinis kedatangan mereka, dan mungkin juga akan ada yang tidak punya perasaan menertawakan suaminya.

Namun, biarpun sadar akan kekurangan diri, si suami, Wan Muhammad yang berusia 29 tahun, tetap bersikeras untuk menemani istrinya menonton film di mal tersebut.

Wan Muhammad sadar bahwa dia tidak mampu menikmati film seperti orang normal lainnya. Tapi apa yang lebih penting baginya adalah dia bisa menggembirakan hati istrinya.

Tersentuh hatinya dengan percakapan pasangan itu, Myza mendekati mereka dan menyatakan keinginannya untuk menghadiahkan tiket VIP agar mereka bisa menonton tanpa terganggu pengunjung lain.

" Saya tersentuh dengan cinta mereka. Biarpun si suami tidak memiliki fisik yang sempurna, dia tetap ingin menemani istrinya menonton film. Padahal dia hanya mampu mendengar. Ya! Dia hanya mampu mendengar saja.

" Semoga Allah pelihara cinta sejati mereka dan kita semua," tulis Myza.

" Saya hadiahkan tiket ini sehingga mereka dapat menikmati film dalam kondisi tenang tanpa gangguan," tambah Myza lagi.

Sumber: dream

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…