Skip to main content

Ingatlah... Catatan Sejarah! Bahwa Umat Islam Lah Yang Selalu Menjaga Kebhinekaan Sejak NKRI Berdiri... Jika Umat Islam Berkuasa, Toleransi Akan Terus Berjalan

ilustrasi

Berbicara mengenai Kebhinekaan seharusnya melihat sejarah perjalanan bangsa ini, sejak masa memperjuangkan kemerdekaan, masa mempertahankan kemerdekaan hingga masa mengisi kemerdekaan

Bagaimana Pancasila bisa ada hingga saat ini, dan tetap menjadi lambang negara, walaupun sejarah mencatatkan kebesaran hati umat Islam yang rela menghapuskan kalimat “Ketuhanan dan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” yang termaktub dalam piagam jakarta, dan cukup menuliskan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam pancasila

Bangsa ini juga telah mencatatkan bagaimana kalimat takbir ‘Allahu Akbar’ menjadi kalimat yang mampu menggerakkan jiwa kepahlawanan para pejuang pada peristiwa 10 November di Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan

Selanjutnya pada masa pemberontakkan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia yang dilakukan pada tahun 1926, 1948 dan 1965, Umat Islam melalui ulama dan para santrinya dipondok pesantren lah yang telah tercatatkan dalam sejarah di negeri ini menjadi korban kebiadaban atas pemberontakkan yang terjadi

Apakah umat Islam itu lantas memaksakan kehendaknya? untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam?, Apakah umat Islam ingin bangsa ini mengakui semua jasa dan perjuangan umat yang telah diberikan? satu jawaban untuk semua pertanyaan itu yaitu TIDAK

Umat Islam sejak negeri ini berdiri sudah menjadi umat yang toleran, selalu siap merangkul semua bagian dan siap duduk bersama; dengan tidak memandang agama, etnis, suku dan asalnya darimana

Namun mengapa kini banyak pihak yang seolah memojokkan dengan jualan Umat ini seolah tidak toleran dan berencana menghancurkan kebhinekaan bangsa ini

Apakah mereka lupa Bagaimana sejarah negeri ini berdiri? Jangan melupakan Sejarah!

Mereka yang berkoar koar tentang kebhinekaan dan Nasionalisme dan lalu memojokkan Umat saat ini, mungkin belum lahir dan tidak termasuk dalam perjalanan panjang sebuah sejarah tentang bagaimana negeri ini berdiri

Aksi 2 Desember 2016 kemarin telah memberikan bukti, Umat Islam sebagai umat yang Mayoritas masih mampu memberikan rasa aman, rasa nyaman bagi semua

Tidak ada kerusakan yang ditimbulkan, karena umat ini adalah umat yang rahmatan lil’alamin; rahmat bagi semua alam, yang sadar bagaimana pentingnya persatuan, kedamaian dan menghargai perbedaan

Umat Islam hanya menginginkan hak atas keadilan dan penegakkan hukum, yang sudah dilengkapi dengan adanya bukti bukti pelanggaran hukum penodaan agama

Yang dinistakan adalah agama Islam, apakah salah kalau mereka meminta hak keadilan dimata hukum atas pelanggaran tersebut?

Apakah pantas karena Umat menuntut hak beragamanya untuk jangan dinistakan, lantas mereka (umat Islam) dikatakan tidak toleran dan menghancurkan kebhinekaan

Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, jangan hanya mengusir asap tanpa mau menangkap sumber apinya

Karena sejarah telah mencatatkan, bahwa umat ini telah menjaga kebhinekaan sejak negeri ini berdiri

Jangan Pernah ajari soal kebhinekaan ketika diri anda masih memperjuangkan kepentingan sejumlah taipan dan bagian kepentingan politik sang penista agama; Ambigu kok dipelihara.

Sumber: lingkarannews

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…