Skip to main content

HTI Kutuk Serangan ke Aleppo





Massa peserta aksi damai melakukan long march ke Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat 16 Desember 2016. Mereka melakukan aksi damai dan mengutuk serangan yang dilakukan tentara rezim Bashar Assad dan Rusia serta para sekutunya terhadap Aleppo. Pada aksi damai itu, peserta mengutuk keras penghancuran yang saat ini dilakukan terhadap Aleppo dan pembantaian warganya.

"Puluhan ribu laki-laki, perempuan, dan anak-anak muslim terancam kematian. Pengamat HAM untuk Suriah mengatakan lebih dari 50.000 orang dari sekitar seperempat juta penduduk kota itu telah mengungsi akibat serangan terhadap Aleppo Timur yang awalnya dilindungi dan dijaga para pejuang Suriah. Akan tetapi, warga yang tak berdaya itu saat ini dihujani bom dan diserang oleh berbagai senjata berat dan canggih," ujar Humas HTI Jabar, Luthfi Afandi di Gedung Sate, Bandung, Jumat 16 Desember 2016.

Menurut dia, saat ini warga Aleppo timur melaporkan penggunaan amunisi bom cluster, yakni bom yang berisi ratusan bom-bom kecil yang meledak dan terbakar di wilayah yang luas, sehingga membakar seluruh lingkungan yang dibom.

"Kelompok bantuan memperkirakan, hanya terdapat 35 dokter yang tersisa di Aleppo Timur, artinya satu dokter untuk setiap 7.143 orang, dengan perhitungan penduduk sekitar 250.000 orang. Duta Besar Prancis untuk PBB, Francois Delattre, bahkan mengatakan, bila tidak ada tindakan cepat, maka Aleppo akan menjadi salah satu pembantaian terbesar terhadap penduduk sipil sejak Perang Dunia II," ujar Luthfi.

Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan sikap yakni pertama mengutuk keras rezim Bashar Assad dan sekutunya yakni Rezim Putin yang melakukan pembantaian di Aleppo. Kedua, mengecam sikap para penguasa negeri-negeri muslim yang tidak segera bertindak terhadap realitas tersebut. Padahal, beberapa negara seperti Yordania, Arab Saudi, dan Turki bertetangga dengan Suriah.

"Terakhir, kami menyeru kepada umat Islam Indonesia untuk memberikan daya apa saja yang dimiliki untuk menolong warga muslim di Aleppo, Suriah. Apa yang terjadi di Aleppo, bukti bahwa Umat Islam di seluruh dunia memang membutuhkan Khilafah. Sebab, Khilafah akan menyatukan Umat Islam, menyatukan kekuatan Umat Islam, dan membebaskan negeri-negeri muslim dan melindungi warganya," tutur Luthfi (pikiran Rakyat)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…