Skip to main content

HEBOH ! PM Malaysia Ajak Jokowi Ikut Melindungi Muslim Rohingya Jangan Cuma Ngurusin Ahok !


Di media sosial sedang ramai diperbincangkan soal video PM Malaysia Najib Razak berpidato memprotes kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar. Dia menyinggung Presiden RI Jokowi agar tidak hanya mengurusi Ahok saja.

Saat itu PM Najib sedang berpidato di depan ribuan orang di Stadium Titiwangsa, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (4/12).

PM Najib Razak bersama Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi, Menteri Luar Negeri Anifah Aman, sejumlah anggota kabinet lain dan Presiden Partai Islam Se-Malaysia (PAS) Abdul Hadi Awang menghadiri acara untuk memprotes hal yang oleh Najib Razak disebut sebagai "pembersihan etnik" minoritas Muslim Rohingya yang tinggal di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Video pidato PM Najib ini banyak diunggah di akun berbagi video Youtube. Salah satunya sudah ditonton ratusan ribu, sampai tulisan ini diposting, mencapai 357.587.

Di video itu, luar biasa sekali! Najib dengan semangat berkobar-kobar dan suara lantang mengkritik habis pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. Dia menyebut praktik kekerasan otoritas Myanmar terhadap minoritas muslim Rohingya sebagai genosida.

Dalam video itu, Najib juga mengajak Presiden Joko Widodo (Jokowi) berperan aktif mengajak masyarakat Indonesia menghentikan kekerasan terhadap etnis Rohingya. Jangan cuma Ahok Saja.

Menyimak pidato berapi-api PM Malaysia membela muslim Rohingya, membayangkan kalau Presiden RI berpidato seperti itu... sungguh akan sangat membanggakan.

Berikut videonya:


Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…