Survei Asian Parent pada sekitar 2.500 orangtua di negara Asean menemukan bahwa ternyata 99% anak main gadget di rumah. 71% main saat bepergian dan 70% main di rumah makan, 40% main di rumah teman dan 17% main di sekolah. Psikolog keluarga Astrid WEN, MPsi, pendiri PION Clinition dan inisiator Theaplay Indonesia menjelaskan bahwa tidak bisa dipungkiri anak yang lahir di era digital seperti sekarang ini akan sangat dekat dengan gadget. Bukan hal yang mengherankan jika anak-anak tersebut sudah kenal gadget bahkan sejak mereka bayi.

Penelitian yang pernah dilakukan mahasiswa psikologi Universitas Indonesia yang melihat preferensi orangtua saat memilih alat permainan tahun 2012 di area Jakarta, ternyata sebagian orangtua memberikan gadget pada anak karena mereka berharap anaknya menjadi pribadi yang pintar. “Gadget dijadikan pilihan pertama, disusul lego, balok-balok kontruktif, puzzle dll. Mainan seperti boneka handuk yang lembut di mana mainan itu membantu mengatasi kecemasan anak, justru tidak jadi favorit. Boneka ini bahkan telah menjadi pilihan terakhir orangtua,” ujar Astrid.

Fenomena ini juga terjadi secara global. Meskipun internet addiction belum dikenal di Indonesia, namun di negara maju masalah ini sudah dianggap sebagai ancaman serius bagi masa depan anak-anak. Bahkan di Inggris, biaya terapi untuk mengatasi kecanduan gadget sangat mahal.

Oleh karena itu, menurut Astrid, mencegah menjadi solusi yang lebih baik dan diharapkan mampu dilakukan sejak dini. Sebenarnya, apakah gadget untuk anak itu berbahaya? Kata bahaya sebenarnya tidak terlalu tepat. Anak mengenal gadget boleh saja, hanya saja ada dua aspek yang harus dipertimbangkan yaitu konten (pornografi, kekerasan) dan waktu/durasinya. Kebanyakan anak menghabiskan waktu bermain gadget selama berjam-jam sehingga mengorbankan waktu untuk melakukan eksplorasi khas anak-anak. Eksplorasi tersebut misalnya bergerak, berlari, dan berinteraksi dengan orang sekitar.

“Anak-anak yang main gadget secara intens berjam-jam umumnya tidak memperhatikan orang lain di sekitarnya, padahal ini sangat penting untuk perkembangannya,” ujar Astrid. Kerugian lain dengan bermain gadget tanpa terkontrol adalah waktu istirahat anak berkurang. Jika waktu anak berkurang, ini bisa berdampak pada perkembangan fisiknya. Ini juga bisa menurunkan kesempatan anak dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya.

“Pada akhirnya anak tidak tumbuh menjadi orang-orang yang dapat merefleksikan dan mengekspresikan diri,” jelas Astrid. Tanda-tanda anak sudah berlebihan menggunakan gadget yang mengarah pada kecanduan di antaranya adalah anak sering lupa waktu, anak mudah marah saat permainannya diinterupsi, pekerjaan rumahnya terbengkalai atau tidak selesai, menarik diri dari lingkungan dan sering bermain gadget dengan cara secara sembunyi-sembunyi.

"Jika anak tidak rewel saat gadget diambil orangtua. Sebaiknya dari awal sudah ada perjanjian berapa jam anak main. Jika waktu habis ambil gadget dengan kata-kata yang baik seperti ' maaf waktu bermain sudah habis yah nak', setelah itu orangtua dapat memberikan permainan lain," tambahnya.

So Mom, apakah buah hati di rumah menunjukkan tanda bahwa ia kecanduan gadget dan internet? Agar kecanduan tersebut tak semakin parah, usahakan untuk menasehati buah hati dengan baik. Usahakan juga untuk mulai membatasi penggunaan gadget serta internet pada buah hati. Jangan pernah lupa untuk senantiasa memantau aktivitas buah hati di rumah. Semoga, informasi ini bermanfaat.

Sumber: vemale
Share To:

Portal Dunia

Post A Comment: