Skip to main content

Gus Sholah Menolak Ditawari YPP 500 Miliar Untuk Bangun Pesantren Oleh YPP





Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid atau akrab disapa Gus Sholah menyatakan tidak bersedia untuk bergabung dengan Yayasan Peduli Pesantren (YPP). Yayasan tersebut diluncurkan Group Chairman & CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) pada awal Desember 2016 melalui "CSR" dari perusahaan itu.

Dalam struktur kepengurusan YPP tercantum nama Gus Sholah sebagai Ketua Dewan Pengawas. Sejumlah nama tokoh NU juga tercatat di struktur tersebut, seperti Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Dewan Pembina.

"Saya sudah berkirim surat ke YPP dan menyatakan tidak bersedia duduk di dalam yayasan di posisi manapun," ujar adik kandung Gus Dur (mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid) tersebut kepada wartawan di Surabaya, Jumat (10/12).

Dengan tabayyun atau klarifikasi ini, Gus Sholah berharap tidak ada lagi kesimpangsiuran informasi, sekaligus sebagai jawaban terhadap pertanyaan para masyayikh, ulama, kiai, habaib dan masyarakat luas, termasuk keluarga besar pesantren Tebu Ireng Jombang.

"Yang pasti, banyak hujatan diarahkan setelah nama saya ada di jajaran pengurus," ucap kiai yang pernah mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden tersebut.

Ia mengaku menghargai program apapun yang berorientasi pada pengembangan pesantren, namun ia juga berterima kasih kepada semua ulama dan seluruh bangsa Indonesia yang memberi masukan kepadanya.

Sebelumnya, HT yang juga Ketua Umum DPP Perindo tersebut mengatakan pembentukan YPP bertujuan agar penggalangan dana dan penyalurannya ke pesantren-pesantren dapat dipertanggungjawabkan serta bisa berkelanjutan.

Oleh karena itu, ia mengajak kalangan pesantren untuk terlibat di dalam kepengurusan YPP, seperti Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Salahudin Wahid.

HT menyampaikan dalam waktu dekat dana yang terkumpul sekitar Rp 100 miliar dan menargetkan YPP bisa menyalurkan lebih dari Rp 500 miliar untuk membantu pesantren-pesantren di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj juga menerima masukan dari pengasuh pesantren dan ulama NU se-Jatim dalam silaturrahim Syuriah PBNU di Sekretariat PWNU Jatim di Surabaya, Rabu (7/12).

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Rais Aam Syuriah PBNU KH Ma'ruf Amin, Wakil Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar, dan Ketua PBNU H Saifullah Yusuf (Wagub Jatim) itu, Said Aqil menyampaikan terima kasih atas masukan para kiai di Jatim.

"Saya minta maaf, terima kasih atas masukannya, saya akan pertimbangkan (masukan itu)," ujar Said Aqil yang sempat mengaku keterlibatannya itu meniru langkah Gus Dur.

Senada dengan itu, Rais Aam Syuriah PBNU KH Maruf Amin juga menyampaikan terima kasih atas kritik dan saran untuk PBNU terkait posisi Said Aqil sebagai pimpinan pelaksana PBNU yang diharapkan para kiai kultural dan struktural untuk menjaga kemandirian NU itu. (pi)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…