Skip to main content

Erdogan: Aleppo adalah Tragedi Paling Memalukan di Abad Ke-21


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan ia tengah membahas situasi saat ini di Aleppo dan Irak dengan Presiden AS Barack Obama pada hari Kamis.

“Kami berbincang cukup lama dengan Obama tentang masalah evakuasi di Aleppo, dan ia bertanya bagaimana dia bisa membantu,” kata Erdogan, lansir World Bulletin.

Erdogan mengatakan pembantaian dan penindasan yang dilakukan terhadap orang-orang di Aleppo dilakukan di tempat terbuka di depan seluruh dunia.

“Aleppo adalah tragedi kemanusiaan paling memalukan di abad ke-21. Jika kita ingin menghasilkan solusi di Suriah, Aleppo harus di bawah kontrol,” kata Erdogan.

Sekitar 1.150 warga sipil, termasuk korban luka-luka, telah tiba di kota Idlib Suriah pada hari Kamis malam waktu setempat.

“Kami terus memantau proses gencatan senjata dan kami akan terus melakukannya. Tentunya, jumlah [orang yang terperangkap di Aleppo] tidak begitu kecil. Saya berharap ini [gencatan senjata] tidak akan dilanggar lagi, “tambahnya.

Menurut kesepakatan antara rezim Assad dan kelompok oposisi Suriah, warga sipil yang dievakuasi dari Aleppo Timur akan diarahkan ke Idlib, yang terletak dekat perbatasan dengan Turki.

Pada hari Kamis, kelompok pertama warga yang dievakuasi dari Aleppo mencapai zona aman yang dikuasai oposisi di Suriah, demikian menurut Wakil Perdana Menteri Turki Veysi Kaynak.

Kekerasan meningkat di kota Aleppo pada hari Senin lalu, ketika pasukan rezim Suriah menggempur wilayah yang dikuasai oposisi di bagian timur kota setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara secara terus-menerus.

Sekitar 80 ribu warga sipil diyakini masih terperangkap di Aleppo.

IslamPos

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…