Skip to main content

Eng...ing..eng Pendukung Ahok Diancam Dengan Pasal Terberat UU ITE Oleh Mantan Staf Khusus Bapak SBY


Mantan staf khusus (Stafsus) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Andi Arief, melaporkan balik Komunitas Advokat Muda Basuki Djarot (Kotak Badja) ke Polda Metro Jaya, Kamis (15/12). Ia menuding pendukung Ahok tersebut melanggar pasal terberat UU ITE lantaran diduga telah manipulasi dokumen elektronik, yakni merekayasa akun Twitter atas nama Andi Arief.

Andi mengatakan rekayasa tersebut telah dilakukan oleh Koordinator Kotak Badja, pengacara Kotak Badja, dan dua saksinya, yakni Andi Gindo serta Guntur Romli. "Saya tak melapor balik kalau dituntut biasa, tapi ada kejanggalan yang menurut saya harus saya lawan.‎ Sebab, mereka sudah merekayasa Twitter seolah-olah saya tweet sesuatu yang tak layak pada 2 Desember lalu," ujar Andi kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Kamis (14/12).

Andi mengaku cuitan melalui akun Twitter pribadinya pada Jumat, 2 Desember lalu itu hanya ada sembilan, yakni sejak subuh hingga sore hari. Isinya seputar apresiasinya terhadap Aksi Bela Islam III dan kehadiran Presiden Jokowi di Monas. Ia menegaskan cuitannya tidak mengomentari Ahok. "Saya tidak mengomentari Ahok saat itu. Maka itu, saya memakai pasal terberat UU ITE‎, yakni pasal rekayasa atau manipulasi elektronik yang ancaman hukumannya 12 tahun," ucap dia.

Selain itu, Andi menyatakan bahwa dia melaporkan balik Kotak Badja karena merasa terancam jika dibiarkan begitu saja, apalagi sekarang marak meme-meme tak terkontrol terkait kasus tersebut. Andi mengaku sudah menyerahkan beberapa bukti kepada polisi yang dapat membuktikan bahwa dia tak membuat cuitan di Twitter seperti yang dituduhkan Kotak Badja. "Mereka melaporkan, merekayasa seolah-olah ‎pada tanggal itu saya yang tweet, ini berbahaya menurut saya. Biar nanti unit Cyber Crime yang memeriksa pula ponsel dan laptop saya membuktikannya," kata Andi.

Sebelumnya, Kotak Badja melaporkan akun Andi Arief atas kicauannya terhadap Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok melalui media sosial ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya, Selasa (13/12). Laporan tersebut diterima dengan nomor LP/6099/XII/2016/PMJ/Dit Reskrimsus tertanggal 13 Desember 2016.

Andi juga diduga telah melanggar Pasal 28 Undang-Undang ITE tentang penyebaran kebencian dan permusuhan hate speech. "Dalam salah satu akun twitternya dia berkicau menyebut kata-kata antara lain dia sampaikan Ahok jangan rusak damai dan persatuan yang sudah baik. Kita tidak ingin pembakaran kampung-kampung Tionghoa, tidak ingin ada yang diperkosa dan lain lain," ujar Ketua Badja, Muanas Alaidid, Selasa (13/12).

Sumber: rol

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…