Header Ads

Ekonomi Indonesia Tahun Depan Diprediksi Masih Tergantung China

Portaldunia.com - Catatan di akhir tahun perekonomian Indonesia, serta melihat perekonomian global, ekonomi global diprediksikan masih akan berat.

International Moneter Fund (IMF) dan World Bank memprediksi, ekonomi dunia masih akan terpengaruh dari negara-negara maju seperti Amerika dan China. Di 2017, pertumbuhan ekonomi China akan turun hingga 6,5 persen. Hal ini tentu saja juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia, bergantung dari ekonomi China, karena ekspor kita ke China sangat besar," kata peneliti Indef, Abra Talattov di Cikini, Jakarta, Minggu, (18/12).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 0,11 persen tergantung kepada China. Berbanding jauh dibandingkan terhadap Jepang dan Amerika yang hanya 0,5 persen.

Ada setidaknya 3 hal yang akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, atau risiko ekonomi global, pertama yakni kenaikan fed rate. Kenaikan fed rate selalu menjadi hantu bagi perekonomian Indonesia. Ini merupakan faktor eksternal yang akan mempengaruhi perekonomian domestik.

"Pemerintah takut dan khawatir kenaikan suku bunga rate," ujarnya.

Kedua, kebijakan presiden terpilih AS Donald Trump. Amerika Serikat kedepan akan sangat agresif dan proteksionis. Kebijakan-kebijakan ekonomi Trump diyakini akan mempengaruhi ekonomi Indonesia.

"Pemerintah Trump nanti akan mendongkrak perekonomian Amerika, cara yang akan dilakukan adalah penambahan utang, menarik dana-dana di negara berkembang kembali ke Amerika," jelasnya.

Ketiga, stabilitas ekonomi global, seperti Brexit, referendum di Italia dan pemilu 2017 di Jerman dan Prancis.

Disisi lain, Outlook 2016 menunjukkan, ekspor Indonesia mengalami kecenderungan penurunan sebesar (minus) -8,04 persen. Ini menandakan bahwa industri Indonesia sedang tidak sehat.

"Makanya akhirnya pemerintah mengeluarkan 14 paket kebijakan ekonomi, tapi belum ada perubahan," urainya.

Di saat ekonomi lesu, pemerintah justur lebih konsen mengeluarkan dana untuk membayar hutang dibandingkan menyantuni hak-hak rakyat lewat belanja modal. Akibatnya, aktivitas sekto riil Indonesia masih lemah. Namun pemerintah masih memaksakan untuk belanja yang tinggi.

Ia mempertanyakan belanja fiskal yang tinggi di kala beban masyarakat juga sedang tinggi.

"Apa perlu meningkatkan beban belanja, sementara rasio hutang kita sudah alarm, kecenderungannya meningkat," tegasnya.

Ia memberikan saran, setidaknya ada beberapa cara untuk menggenjot penerimaan negara jangka pendek, yakni menindak tegas pengemplang pajak dan ekstensifikasi cukai. Kendati Tax Amnesty berjalan lancar, namun tetap saja ada pengusaha pengemplang pajak yang belum menunaikan kewajibannya.

Sementara, eksistensifikasi cukai, yakni melebarkan sayap penerimaan cukai, yang selama ini penerimaan terbesar hanya dari tembakau dan alkohol.

"Cukai itu nggak cukup dua barang itu. Ada yang potensial, misal kendaraan bermotor dan cukai plastik," tukasnya.

Sumber: Rmol
Powered by Blogger.