Skip to main content

Efek Tandingan, Partai Nasdem Imbau Umat Islam Sholat Subuh Berjamaah di Masjid


Partai Nasional Demokrat (Nasdem) memberikan imbauan masyarakat muslim di Indonesia untuk sholat Subuh berjamaah. Hal tersebut terlihat dari sebuah baliho partai Nasdem yang bergambarkan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dan seorang politikus Nasdem bernama Agus Suparman.

Baliho raksasa bertuliskan ucapan Selamat Tahun Baru 2017 itu bisa dilihat di Tol Jakarta-Cikampek. Ajakan sholat Subuhnya terdapat pada sebuah kalimat yang berbunyi, "Jadilah Pejuang Sholat Subuh Berjamaah di Masjid" di bawahnya tertulis "Lawan rasa kantukmu! Bergegaslah ambil air wudhu!"

Baliho imbauan tersebut tentu mengundang ketakjuban yang melihatnya. Takjub sebab Nasdem yang biasanya kerap berseberangan dengan golongan Islamis mendadak relijius.

"Semestinya asli itu (baliho), cuma yang harus dicek validitasnya adalah apakah Surya Paloh rajin subuhan di masjid apa nggak?" kata David mengomentari baliho yahuud itu.

Salah satu bentuk agenda Nasdem yang kontra dengan Islamis yaitu adanya agenda Parade Bhinneka Tunggal Ika atau Parade Kita Indonesia (PKI) yang digelar di area Car Free Day (CFD) di kawasan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, dan sekitarnya pada Minggu (4/12/2016) lalu.

Partai-partai koalisi yang mengadakan gelaran Parade Bhinneka Tunggal Ika. Panitia menegaskan kegiatan yang disebut sebagai 'Aksi Kita Indonesia' itu mengklaim tidak memiliki muatan politik. Namun nyatanya banyak bendera partai politik.

Parade tersebut dinilai sebagai aksi tandingan dari Aksi Damai 212 yang digagas Umat Islam Indonesia--yang berlanjut ke Sholat Subuh Berjamaah 1212. Dengan kata lain, aksi tersebut aksi merupakan dukungan terhadap pelaku penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. [Paramuda/BersamaDakwah]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…