Skip to main content

Dosen Makassar: Ahok tak Perlu Bawa-bawa Suku Bugis di Proses Sidang Berikutnya


www.postmetro.co - Persidangan perdana dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memunculkan nama keluarga besar Andi Baso Amir. Dalam persidangan yang berlangsung Selasa (13/12) di Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu, Ahok menangis saat membacakan nota keberatannya.

Anggota tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Sirra Prayuna mengatakan kliennya sangat sedih dan itu adalah sikap batinnya mengingat kultur yang selama ini membesarkannya. Ahok menceritakan dia adalah bagian keluarga besar Andi Baso Amir dan sudah diangkat sebagai anak oleh keluarga yang asal Sulawesi Selatan itu. Andi Baso Amir adalah sosok terpandang masyarakat Sulsel, mantan Bupati Bone dan merupakan adik dari almarhum Jenderal M Jusuf.

Berbagai reaksi pun muncul dengan suasana sidang yang diwarnai air mata Ahok. Analis Komunikasi Politik dan Kebangsaan yang juga dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Arqam Azikin mengatakan, sebagai terdakwa kasus penistaan agama, Ahok tidak perlu menyebut-nyebut suku Bugis dalam persidangannya.

"Tak ada hubungan yang substansial antara suku Bugis dan status terdakwanya Ahok. Hubungan personal Ahok dengan siapapun warga Bugis, tidak perlu menjadi sampel dalam proses pembelaannya di Pengadilan. Itu tidak relevan," kata Arqam kepada Republika.co.id, Selasa (13/12).

Di mata alumnus Komunikasi Universitas Hasanudin ini, Ahok mengungkit masa lalunya yang menjadi anak angkat keluarga Muslim dan Sulawesi Selatan untuk meyakinkan hakim, jaksa dan publik bahwa dia tidak mungkin bersalah karena melalukan penistaan agama. Ahok justru menyalahkan orang-orang yang mempermasalahkan ucapannya tentang Surah Al Maidah 51.

Arqam menengaskan, silakan saja Ahok membela dirinya di pegadilan. Namun dia meminta jangan lagi membawa-bawa Suku Bugis dalam kalimat-kalimat di depan pengadilan.

"Ahok konsentrasi saja pertanggungjawabkan secara personal dan tidak perlu sebut-sebut etnik manapun. Sebab itu justru menimbulkan distorsi dan bisa menjadi imej negatif bagi warga Bugis di mana pun," katanya. [rol]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…