Skip to main content

Cerita Aksi 212 : Hidayah Islam Membuatnya Tetap Kuat Memeluk Islam



Dewi (sebut saja namanya seperti itu) keturunan Tionghoa yang memeluk agama Budha. Namun, Dewi memutuskan untuk memeluk Islam karena ajakan suaminya untuk menikah. Sedikit-sedikit Dewi memperlajari Islam dan itu membuatnya yakin untuk bersyahadat.

Tahun 1995 dewi mengucapkan syahadat lalu kemudian menikah. Keluarga menentangnya, dan ia memutuskan untuk meninggalkan rumah bersama suami.

Wanita berusia 48 tahun ini merasakan perbedaan dihatinya setelah memeluk agama Islam. Hatinya merasa nyaman dan tenang. Ia sangat mengharapkan dapat dibimbing oleh suaminya, tapi harapannya tidak sebanding dengan kenyataan.

“Suami saya Islam dari kecil jadi mungkin dia merasa tidak ada hal yang menakjubkan dari agama Islam, ibadahnya juga tidak terlalu baik. Itu membuat saya kecewa,” katanya.

Dewi mempelajari agama dari buku dan belum memahami Islam secara kaffah. Ia sering konflik dengan suaminya karena memang suaminya tidak seperti yang ia harapkan. “Saya berharap dia bisa jadi imam yang baik terlebih dia kan Islam dari lahir dan harusnya membimbing saya. Tapi, saya tidak bisa dapatkan itu, akhirnya kami bercerai,” ujarnya.

Banyak cibiran dari keluarganya perihal rumah tangganya dan keputusannya beragama Islam, tapi itu tidak menyulutkannya untuk tetap teguh memeluk Islam. “Saya pernah jadi Islam KTP yang ibadah masih belentang-belentong, tapi semakin ujian yang saya rasa semakin saya ingin selalu mendekat kepada Allah”.

Karena keterbatasan materi akhirnya ia bersama empat anaknya kembali ke rumah orang tuanya. Sering dia sembunyi-sembunyi untu shalat dan tidak mau ikut acara keluarga karena sering dibujuk untuk kembali ke agama Budha. “Pernahn ditawarkan berbagai fasilitas dan materi dan jaminan dari pemuka agama, tapi saya menolak,” katanya.

Di tengah keluarga yang memluk agama budha, tahun 2014 ia memutuskan untuk mengenakan hijab syar’i dan benar-benar menjaga dirinya selayaknya Muslimah. Banyak juga ujian yang ia hadapi dan cemoohan keluarga sampai saat ini masih ia terima.

Ia sangat yakin kalau Allah SWT sangat menyayanginya dan anak-anaknya. Dirinya sangat bersyukur, Allah memberi nikmat Islam meskipun banyak ujian yang ia lewati, tapi ia yakin cinta Allah lebih besar dari segala-galanya. Ia berjuang mendidik anak di tengah keluarga yang memeranginya. Saat ini ia pun aktif menjadi pengurus Masjid Agung Raya Bogor.

Ia pun sangat antusias menyambut aksi bela Islam. “Saya berangkat dari Bogor bersama para jamaah dengan berjalan kaki. Itu semua saya lakukan untuk membela Kalam Allah dan solidaritas sesama muslim,” ujarnya.

Ia berharap, dapat membesarkan anak-anaknya dengan istiqomah di jalan Allah dan anak-anaknya menjadi pembela agama Allah. (rp)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…