Skip to main content

Bolehkah Bersumpah Dengan Mushaf Al Quran?


Menggunakan mushaf al-Qur’an sebagai sarana untuk memperkuat sumpah bukanlah suatu yang asing di tengah-tengah masyarakat kita. Dalam seremonial pengukuhan jabatan tertentu, al-Quran sering digunakan untuk memperkuat ikatan sumpah jabatan yang diucapkan oleh calon pejabat.

Umumnya, tradisi yang sering digunakan muslim Indonesia adalah dengan meletakkan mushaf di atas kepala, lalu pejabat yang mau diangkat mengucapkan sumpahnya. Namun ada juga di sebagian tempat yang menggunakan tata cara yang sedikit berbeda, yaitu bersumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf.

Sebagai seorang muslim yang selalu mengikuti petunjuk syariat, kita mesti akan bertanya tentang bagaimanakah para ulama memandang hukum dalam persoalan ini?

Dalam literatur fikih islam, ternyata para ulama berbeda-beda pendapat dalam menyimpulkan hukum mengenai persoalan ini. Setidaknya ada tiga pendapat yang mereka hasilkan, yaitu:

Pertama, sunah memperkuat sumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan fuqaha mazhab Syafi’i. (Al-Umm: 6/278; Al-Muhadzdzab: 2/412; Raudhatut Thalibîn: 2/31; Mughnil Muhtaj: 4/473)

Dalil yang menjadi pijakan mereka adalah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dari Mutharrif bin Mazin, dia berkata, “(Saya tidak mengetahui) bahwa Ibnu Zubair menyuruh bersumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf”. Imam Syafi’i berkata, “Saya pernah melihat Mutharrif bersumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf di Shan’a.” (HR Al-Baihaqi: 10/178)

Kedua, tidak disyariatkan sumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf. Ini adalah pendapat fuqaha mazhab Hambali. (Al-Mughni: 12/118, Al-Mubdi’: 10/290)

Alasan mereka, bersumpah dengan meletakkan tangan di atas Al-Qur’an adalah tambahan yang tidak berlandaskan dalil dari apa yang diperintahkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, atau yang dicontohkan para Khulafa’ Rasyidun, dan para qadhi (hakim) mereka ketika bersumpah.

Ketiga, boleh bersumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf. Ini adalah pendapat fuqaha mazhab Malik. (Al-Fawakih ad-Dawany: 2/399, Al-Fawakih ad-Dawany: 2/312)

Pendapat yang kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa boleh mempertegas sumpah dengan meletakkan tangan di atas mushaf, jika dapat menggentarkan dan menjauhkan orang yang bersumpah dari melanggar sumpahnya jika dia berdusta. Dalam kondisi seperti itu mempertegas sumpah disyariatkan.

Pendapat ini sesuai dengan hasil keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami Rabithah Al-‘Alam Al-Islami yang isinya di antaranya, “Meletakkan tangan ketika bersumpah di atas mushaf, Taurat, Injil, atau sejenisnya tidak termasuk (syarat) keabsahan sumpah. Namun, itu boleh dilakukan berdasarkan kebijakan hakim untuk mempertegas sumpah agar menggentarkan orang yang bersumpah dari berdusta.” (Qararatu Majlisil Majma’al Fiqhil Islamy lî Rabithatil ‘Alam Al-Islamy: edisi 5,

Sumber: kiblat

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…