Header Ads

Bisa Jadi Sensitif, Jangan Katakan 5 Hal Ini pada Ibu yang Baru Melahirkan!

ilustrasi

Jakarta - Baru saja melahirkan bayi yang lucu memang memberikan kebahagiaan tersendiri. Tapi bukan berarti setiap waktu para ibu ini bisa tersenyum sambil menimang bayinya. Terkadang ada hal kecil yang malah jadi bikin ibu yang baru melahirkan sedih.

Apalagi perlu diketahui baby blues syndrome memang rentan terjadi pada ibu yang baru melahirkan, terutama ibu yang baru memiliki anak pertama. Gejala utamanya adalah perasaan sedih, hilang nafsu makan dan sulit tidur. Umumnya baby blues akan hilang sendiri setelah kurang lebih 2 minggu.

Nah, kepada ibu yang baru melahirkan sebaiknya tidak menyampaikan hal-hal tertentu. Hal-hal apa yang sebaiknya tidak disampaikan pada ibu yang baru melahirkan? Yuk simak pemaparannya.

1. 'Bayinya Kok Kecil'

"Walah, bayinya kok kecil ya." Ucapan itu tanpa disadari bisa terlontar begitu saja saat membesuk ibu yang baru melahirkan dan bayinya. Kalimat yang tampaknya terdengar biasa saja, namun cukup membuat ibu baru sedih. Apalagi jika si kecil lahir cukup bulan dan berat badannya sebenarnya cukup normal, meskipun memang tidak terlalu besar.

"Bayi saya lahir dengan berat badan 2,8 kg dan panjang 51 cm, di usia kandungan 40 minggu. Beberapa orang yang menjenguk kami bilang katanya bayi saya kecil banget. Saat mereka pulang, saya nangis sendiri. Memang iya ya, bayi saya kecil banget?" kata Devira, salah satu pembaca detikHealth.

Seharusnya Devira tidak perlu sedih. Sebab menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi dikatakan memiliki berat lahir rendah jika saat lahir bobotnya kurang dari 2.500 gram. Sementara itu, berat lahir sangat rendah jika bayi lahir dengan berat 1.000 hingga kurang dari 1.500 gram. Sedangkan jika berat lahirnya kurang dari 1.000 gram maka dikatakan berat lahir amat sangat rendah.

2. 'Kenapa Ini Kulitnya Beruntusan?'

Saat menjenguk bayi baru lahir, beberapa orang mungkin mendapati bayi yang ditengok memiliki kulit yang tidak halus. Bisa jadi kulit wajahnya merah-merah dan beruntusan. Sebenarnya ini normal, tapi ibu si bayi bisa jadi sedih karena mendengar ucapan tamunya yang mengatakan: kok kulit bayinya beruntusan?

"Orang-orang yang nengokin pada bilang 'ini kenapa sih kok kulit bayinya pada beruntusan, kepanasan kali ya'. Apalagi kalau terus membandingkan sama anaknya dulu yang pas lahir kulitnya bersih karena katanya makan makanan tertentu saat hamil. Sedih sih dengarnya," ujar Novia, pembaca detikHealth lainnya.

dr Rini Sekartini, SpA(K), konsultan tumbuh kembang dari RSCM, menjelaskan beruntusan merupakan fase normal yang dialami oleh bayi yang baru lahir. Sebabnya, hormon dalam tubuh bayi yang baru lahir masih tidak seimbang karena masih membawa hormon dari ibu.

Kata dr Rini, beruntusan seperti jerawat itu nantinya hilang sendiri. "Satu sampai tiga bulan itu masih kuat pengaruh hormon ibu. Setelah dua bulan biasanya jerawat itu hilang sendiri seiring berkurangnya hormon dari ibu yang ada di tubuh bayi," kata dr Rini beberapa waktu lalu.

3. 'Bayinya Nangis Terus, ASI-nya Sedikit Sih'

Nenden, pembaca detikHealth yang memiliki satu putra mengaku pernah merasa sedih akibat ucapan beberapa rekan yang menjenguknya seusai bersalin. Hal itu terkait bayinya yang menangis terus-menerus, lalu oleh para penjenguk dikaitkan dengan air susu ibu (ASI) yang sedikit.

"Bayi aku nangis terus. Sudah itu, sebentar-sebentar menyusu. Lalu ada yang jenguk bilang 'bayinya nangis terus, ASI-nya sedikit sih'. Itu sedih banget dengernya. Untungnya punya teman-teman yang sama-sama ibu baru, berjuang ngasih ASI, jadinya nggak lama-lama sedihnya," terang Nenden.

dr Candra Wijaya, Health Team Coordinator Wahana Visi Indonesia beberapa waktu lalu memaparkan bayi yang menangis sesaat setelah dilahirkan, belum tentu hanya karena dia lapar. Bisa jadi ada alasan lainnya juga, misalnya karena merasa tidak nyaman dengan tempat atau suhu sekitar.

Apalagi ukuran lambung bayi pada saat lahir hanya sebesar kelereng. Jadi, dengan mengonsumsi beberapa tetes ASI saja, bayi sudah kenyang. Kehangatan dan interaksi kulit secara langsung antara anak dan ibu akan memberi rangsangan pada produksi prolaktin dan oksitoksin pada ibu. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI.

Jadi ketimbang meruntuhkan rasa percaya diri ibu yang baru melahirkan dengan mengaitkan tagisan bayi dan ASI-nya, sebaiknya terus semangati si ibu untuk terus memberikan ASI-nya. Karena memberikan ASI itu tidak semudah yang dibayangkan.

4. 'Nggak Seperti Orang Tuanya, Kulit Bayinya Gelap Ya'

Soal komentar warna kulit bayi yang baru lahir memang mungkin tidak bermaksud rasis. Tapi terkadang hal ini bikin sedih ibu yang baru melahirkan, apalagi jika kemudian dibandingkan dengan warna kulit orang tuanya. Padahal jelas-jelas itu anak kandungnya.

"Saya sedih waktu anak saya dibilang gelap banget padahal kulit saya dan suami cukup terang. Terus orang-orang bilang bayinya beda banget sama orang tuanya," curhat Nani, pembaca detikHealth yang lain.

Warna kulit seseorang dipengaruhi oleh pigmen. Nah, pigmen itu merupakan turunan atau genetik dari orang tua. Dalam satu sampai tiga bulan pertama sejak kelahiran, kulit bayi memang akan berubah.

Kulit bayi yang semula kemerah-merahan, akan berubah menjadi kecokelatan. Sementara bayi yang lahir agak pucat nantinya akan berubah menjadi lebih cerah. "Bisa juga misalnya karena kurang kena sinar matahari, bayi akan menguning. Itu karena pengaruh bilirubinnya," ungkap dr Rini.

Namun jika perubahan warna kulit hanya terjadi di satu tempat, maka patut dicurigainya adanya suatu indikasi adanya gangguan di kulit. "Kalau warna kulitnya tidak merata, di sini agak merah, di sana putih atau pucat, bisa jadi gangguan kulit, harus dibawa ke dokter," ucap dr Rini.

5. 'Digendong Melulu, Nanti Bau Tangan Lho'

Karena merasa lebih dulu punya pengalaman memiliki anak, terkadang kita 'gatal' untuk memberi nasihat pada ibu yang baru saja punya bayi. Padahal bisa jadi keceriwisan kita mengganggu dan malah bikin sedih atau kesal yang bersangkutan.

"Sedih dan kesal kalau ada yang bilang anaknya jangan digendong mulu, nanti bau tangan. Ya gimana ya, namanya anak sendiri masa mau digendong nggak boleh. Kesal juga sih kalau begitu," ujar Safa, pembaca detikHealth lainnya.

dr Meta Hanindita SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan 'bau tangan' itu cuma mitos. Karena pada intinya, pelukan melalui gendongan bisa bikin bayi nyaman.

Sumber: detikhealth
Powered by Blogger.