Skip to main content

Berlatar Belakang Bendera Warna Merah, Foto Presiden di Wangon Diturunkan Koramil

Portaldunia.com, WANGON - Personil Koramil Wangon bersama Pemerintah Desa se Kecamatan Wangon menemukan foto Presiden dan Wakil Presiden RI dengan latarbelakang bendera yang hanya terlihat warna merah. Dengan penemuan tersebut, personil Koramil menurunkan foto dan mengganti dengan foto Presiden dan Wakil Presiden dengan latar belakang bendera merah putih.

Seperti yang dilakukan di Balai Desa Klapagading Kecamatan Wangon, personil Koramil dan Pemerintah Desa menurunkan dan mengganti foto Presiden dan Wakil Presiden RI pada Selasa (13/12).

Kepala Desa Klapagading H Rudianto mengatakan, setelah diperhatikan dengan seksama ternyata bendera yang berada di belakang gambar Presiden dan Wakil Presiden RI hany berwarna merah. Biasanya, yang ia ketahui latar belakang tersebut adalah bendera dengan warna merah dan putih.

“Supaya tidak terjadi salah tafsir, gambar tersebut diturunkan dan diganti dengan gambar yang baru dengan latar belakang bendera merah putih. Kemudian dipasang kembali,”jelasnya, Rabu (14/12).

Menurutnya, temuan bendera yang terlihat hanya berwarna merah diketahui setelah ramai di WA bahwa ada kantor yang masih memasang foto Presiden dan Wakil Presiden RI. Ia kemudian mengecek foto yang ada di kantornya dan ternyata bendera di belakang foto Presiden dan Wakil Presiden RI hanya terlihat berwarna merah.

“Mungkin warnanya merah putih namun yang terlihat hanya warna merahnya saja. Sekarang sudah diganti,”jelasnya.

Danramil Wangon Kapt Inf Sardiman mengatakan, dari temuan tersebut pihaknya menghimbau kepada kepala desa atau sekolah untuk meneliti foto Presiden dan Wakil Presiden RI yang ada di kantor.

Sumber: radarbanyumas

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…