BERKIBAR BENDERA CHINA DI KEPULAUAN SERIBU?BERIKUT KILAS BALIKNYA

Warga yang tinggal di Pulau Pari didigegerkan adanya sebuah bendera dengan latar belakang merah, dan logo lima orang yang sedang melingkar warna kuning, serta bertuliskan ‘JKT.Desa China’.
Bendera itu berkibar di bibir pantai Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan, pada Minggu (11/9/2016). Hal ini pun dibenarkan oleh AKBP John Weynart Hutagalung selaku Kapolres Kepulauan Seribu.
“Memang benar, sempat ada bendera warnanya merah, berlogo lima orang saling berpegangan dan melingkar kuning, serta ada tulisan hitam bertuliskan ‘JKT.Desa China’ di bibir Pulau Pari itu. Warga yang melihat itu, sempat melaporkan ke Pospol Pulau Pari terdekat,” kata John saat dikonfirmasi, Selasa (13/9/2016).
John mengatakan, dari kelompok wisatawan yang mendirikan bendera tersebut di antaranya seorang pria warga Cina bernama Liu Yun Xun (46). Liu datang ke pulau tersebut dengan rombongan wisatawan asal Cina lainnya yang saat itu baru datang untuk snorkeling.
Namun, karena rombongan wisatawan Cina lainnya saat itu sudah berpencar, polisi pun melakukan pemeriksaan juga terhadap pihak travel yang mengantarnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata John, tidak ditemukan adanya unsur SARA atas tindakan mereka. Karena itu, polisi tidak melakukan penangkapan terhadap Liu.
“Tadi malam sudah turun juga dari Polda. Sudah pasti tidak ada yang diamankan, bukan tindak pidana. Itu hanya salah paham,” ucap John.
Tindakan wisatawan asing itu juga sempat menjadi viral di media sosial. Namun, menurut John, hal itu hanya ulah dari beberapa provokator. Ia pun menegaskan bahwa tindakan iseng turis tersebut tidak ada kaitannya dengan Pilkada DKI Jakarta yang akan diselenggarakan 2017 mendatang.
“Kondusif kok, itu hanya ada beberapa pihak yang memprovokasi, karena hal-hal yang berbau SARA itu, jadinya gampang sekali. Tapi masyarakat sudah pintar lah. Tapi polisinya harus respons, makanya diperiksa,” kata John.
Usai diperiksa, warga negara asing tersebut langsung dipulangkan. John pun mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terpancing dengan isu-isu berbau SARA.