Skip to main content

Bahaya Pornografi! Ayah Ini Jadi Bejat Usai Ditinggal Istri, Tega Garap Ketiga Putri Kandungnya

ilustrasi



Seorang ayah di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Sumut, tega menggagahi tiga putrinya. Mirisnya ketiga putrinya berinisial W, A dan Z itu masih belum genap berusia sepuluh tahun.

Ayah yang tega itu berinisial BH, 48, dan tinggal Kecamatan Hutaraja Tinggi, Palas, Sumut. Dia tidak punya pekerjaan tetap. Sesekali bertukang. Kadang ia mengerjakan sawah orang lain.

Dan kini, ia harus menghabiskan waktu di dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Perbuatan yang menurut pengakuannya dilakukan karena tak punya pelampiasan seks setelah berpisah dari istrinya, J.

”Sudah hampir 1 tahun aku pisah ranjang sama istriku. Tapi kejadian itu, empat bulan setelah kami pisah. Kira-kira Oktober lalu. Itu terjadi siap aku nonton film porno dari handphone kawanku,” ucapnya seperti diberitakan Metrosiantar (Jawa Pos Group).

“Anakku ada enam. Dua ikut istriku. Empat samaku. Satu laki-laki dan tiga perempuan. Sebelum kejadian, aku tengok orang itu (ketiga putrinya) tidur. Lalu timbul niat. Anakku yang ketiga jadi pelampiasan,” lanjutnya.

Setelah kejadian itu, BH pun ketagihan. Hingga akhirnya ia mencabuli ketiga anak perempuannya. “Sudah sering, pak. Lupa aku berapa kali aku lakukan,” tukasnya.

Aksi BH terbongkar setelah ketiga putrinya melaporkan kejadian itu ke istrinya, J. Geram dengan kelakuan mantan suaminya, ia pun melaporkan aksi suaminya ke Polres Tapsel. Mendapat laporan tersebut, petugas pun langsung memboyong BH dari kediamannya.

“Pelaku sudah diamankan usai istrinya membuat laporan pada Rabu (25/5) lalu,” sebut Kapolres Tapsel AKBP Rony Samtana.

sumber: jpnn

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…