Skip to main content

Ayah Vidi Aldiano, Salah Satu Sosok di Balik Suksesnya Aksi 212



Aksi Bela Islam Jilid 3 atau yang dikenal dengan nama Aksi 212 telah sukses diselenggarakan, jutaan Umat Islam hadir dalam acara tersebut.

Mungkin ada yang sempat bertanya-tanya, suara dari Panggung Utama dapat didengar dari jarak jauh, tanpa ada kabel yang terlihat. Ternyata ada sosok luar biasa dibalik itu semua, dialah Harry Kriss yang juga merupakan ayahanda penyanyi terkenal Vidi Aldiano.

Dengan kemampuan yang dimiliki, Harry Kiss lah yang membuat soundsystem dari panggung utama di silang Monas hingga menyebar ke segala penjuru menjangkau seluruh jamaah yang hadir tanpa ada terlihat kabel.

Dengan menggunakan SPEAKER V8 buatannya sendiri, Harry berhasil menstransmisikan suara secara wireless kepada jutaan manusia yang tersebar jauh dari Panggung Utama Monas hingga berbagai tempat yang jaraknya cukup jauh, hingga ke area Bundaran HI, bahkan sampai area Senen dan Cempaka Putih.

Speaker V8 buata Harry dibuat dari bahan dasar kayu terbaik di seluruh dunia (kayu Rusia atau Finlandia). Semua yang merancang adalah Harry sedangkan untuk pembuatan implementasinya di pabrik kelas dunia.

Hasil karya Harry berupa speaker V8 ini telah menangani 18 event besar. Speaker seperti ini bisa dipakai di hampir semua acara besar nasional. Seperti acara besar stasiun TV, Hari Kebangkitan Nasional ke-100, upacara sakral Hari Kemerdekaan di Istana, dan yang lainnya.


Harry Kiss Persiapan Sound System untuk Aksi 212 di Monas

Selain mahir dalam dunia sound system dan event, Harry dikenal sebagai pribadi yang santun dan memiliki kecintaan yang besar terhadap Islam. Harry yang telah membangun sebanyak 40 masjid di seluruh Indonesia Indonesia dan bersama lembaga kemanusiaan membangun rumah sakit di Palestina. [islamedia.id]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…