Jika ada yang terheran-heran melihat arus baru dalam ghirah Islam, berarti dia seperti baru mengenal saudaranya sendiri. Dari mana asalnya arus ini? Mereka adalah yang selama ini diam. Mereka tidak punya saluran untuk menyuarakan isi hati mereka. Mereka tidak diajarkan berunjuk rasa. Mereka selama ini “ sami’na wa atho’na. “ Mendengar dan menuruti apa kata pimpinan mereka. Tapi sayangnya, suara hati mereka tidak ada yang “ mendengar dan menyalurkan. “

Justru saluran itu mereka dapatkan dari tokoh seiman yang bukan dari komunitas tradisional mereka. Tokoh ini terang-terangan memilih jalur amar ma’ruf nahi munkar. Walaupun amar ma’rufnya sengaja ditutupi oleh media yang lebih menonjolkan nahi munkarnya.

Ketika terjadi kemaksiatan di sekitar rumah mereka, lalu mereka melaporkan pada pihak berwajib, tapi tidak ada tindakan apa-apa. Ya, mereka diam saja. Mereka tidak tahu cara lain selain saluran yang tidak melanggar hukum. Ormas yang kerap dituduh radikal mengambil kekosongan itu mengambil alih fungsi aparat dengan caranya sendiri. Lalu para tokoh tradisional mayoritas diam, mengecam. Bicara soal hukum, padahal mayoritas diam itu sudah menempuh jalur hukum tapi selalu kandas. Mereka tidak protes. Tetap sami’na wa atho’na. Dan mereka juga tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih pada ormas yang telah menyelesaikan persoalan mereka. Mereka biarkan ormas itu dikecam, berurusan dengan hukum. Bukan karena mereka tega. Tapi mereka memang tidak tahu harus bicara apa.

Mereka melihat banyak hal yang bertentangan dengan ajaran yang mereka pegang teguh, menantang mereka. Mereka tidak diajarkan cara melawan. Pimpinan tradisional mereka tidak berkata apa-apa.
Ketika kontes kecantikan tingkat dunia rencananya di adakan di ibukota, lalu datang lagi ormas menyuarakan suara hati mereka. Tapi mereka tetap biarkan ormas itu berjuang sendirian. Ketika leberalisasi masuk ke mana-mana termasuk istana, mereka hanya bisa terheran-heran melihat pembacaan AlQur’an dengan langgam jawa hingga tajwidnya tak karuan. Mereka kecewa, tapi mau bilang apa. Mereka tetap diam sami’na wa atho’na.

Pada saat bulan puasa, penguasa dan tokoh tradisional mereka membolehkan warung buka siang hari dengan berbagai alasan. Mereka agak terbela dengan Perda, tapi perda itu malah disalahkan juga. Penjual makanan yang jelas melanggar perda dan tidak menghormati tradisi suasana puasa malah banjir hadiah, termasuk oleh pimpinan tertinggi. Mereka hanya bisa mengurut dada.
Ketika miras meracuni anak-anak mereka, perda menjawab keresahan mereka, tapi pemerintah pusat dan sejumlah pihak menganggap sebagai anti kebhinekaan. Maknanya jelas. Perda intoleransi itu mesti  dikubur hidup-hidup. Media televisi tertentu dan sejumlah media mengamini. Bahkan terus mengkampanyekan bahwa melarang pornogarfi, Miras, keutamaan memamakai hijab bukanlah tradisi bangsa Indonesia. Pemerintah tidak boleh ikut campur. Mereka, mayoritas diam tidak diajarkan protes. Sementara tokoh tradisional meraka tidak jelas sikapnya. Ya terpaksa tetap sami’na waatho’na.
Itu cuma beberapa contoh kecil saja.

Ormas yang menyuarakan suara hati mereka kerap dihajar, dibully. Bahkan tokohnya dicaci maki, dibuat meme yang tidak senonoh. Mereka melihat tokoh itu tidak marah ketika pribadinya diserang, tapi bergerak ketika agama dilecehkan. Persis dengan buku panduan yang mereka pegang. Dalam buku itu diceritakan, Kanjeng Nabi tidak marah pada orang yang menghinanya, melecehkannya, tapi kanjeng Nabi tetap bersikap tegas ketika agama dinista. Bukan sebaliknya.

Mereka juga melihat dengan jelas. Ormas yang dicap sebagai radikal itu dianggap bertentangan dengan suara mayoritas. Mayoritas diam tak diperhitungkan. Ketika ada yang melecehkan kitab suci dan ormas itu bergerak dengan jumlah yang seperti biasa, sang penista tak gentar, karena dianggapnya ormas itu tidak mewakili suara mayoritas. Jumlah menjadi acuan.

Ketika ada ajakan bela Al Qur’an, mayoritas diam memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Kalau selama ini jumlah menjadi patokan, mayoritas diam ingin menunjukkan bahwa sebenarnya ada jumlah yang lebih besar yang selama ini hanya diwakili oleh jumlah yang lebih kecil.

Mereka ikut turun ke jalan. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya jutaan. Tapi karena mereka tidak biasa berdemonstrasi, nampak sekali mereka agak canggung ketika turun ke jalan. Mereka hanya mondar-mandir, selfie. Tapi itu pun cukup menjawab pertanyaan soal jumlah yang disakiiti perasaannya oleh sang penista.

Setelah mereka belajar turun ke jalan. Pada aksi berikutnya, mereka datang lagi dengan jumlah yang lebih besar. Walaupun tokoh tradisional mereka mengharamkan, mereka tetap sami’na tapi terpaksa untu sekali ini tidak atho’na.

Mereka datang dan pulang dengan tertib, karena memang tidak terbiasa berunjuk rasa. Mereka menganggap sebagai acara majeis ta’lim atau tabligh akbar dalam jumlah yang sangat besar. Mereka pulang tertib seperti pulang dari pengajian atau tabligh akbar.

Sekarang mereka sudah tidak bisa diam lagi. Mereka sudah menemukan jalannya. Mereka harus bersuara. Makanya apa saja yang selama ini mengganjal, mereka tumpahkan secara beruntun. Pertama mereka membuat gerakan boikot pada stasiun televisi tertentu yang selama ini mereka anggap sering mengejek mereka. Lalu ketika ada perusahaan makanan menyinggung perasaaan, mereka juga serentak memboikot. Mereka sudah tidak bisa diam.

Jika ada yang menyebut sikap ini adalah sebagai puber dalam beragama, berarti yang menyebut itu tidak mengenal saudaranya sendiri. Mayoritas diam yang sekarang sudah berhenti diam itu dulu hanya bersuara di kalangan terbatas. Di pengajian, di majelis ta’lim, terkadang di mimbar jum’at karena mereka memang tidak punya saluran lain.

Mereka memang puber dalam satu hal. Menyuarakan apa yang mereka rasakan, Makanya sekarang mereka sepertii satu tubuh. Satu aliran air yang arusnya datang bergelombang memasuki wilayah wacana. Sampai di sini mestinya jika kita mengenal saudara kita sendiri, kita mengerti kenapa mereka sangat reaktif. (Facebook, WA)
Share To:

Portal Dunia

Post A Comment: