Skip to main content

Alhamdulillah...Indonesia Menjadi Wisata Halal Dunia


Sekarang, wisata Indonesia tak hanya Bali. Cobalah menyebrang ke timur. Dalam jarak tak lebih dari 200 kilometer, Anda pasti menemukan surga baru. Daerah itu bernama Lombok. Pulau Seribu Masjid, julukannya.

Daratan ini tak begitu luas. Kurang dari 5.500 kilometer persegi. Memang lebih sempit dari Pulau Dewata –yang duluan sohor dengan pelancongannya. Tapi yakinlah, tempat-tempat indah tersebar di sana. Tak kalah menakjubkan.

Anda mau plesiran ke mana? Pantai, gunung, atau desa-desa adat? Di sanalah tempatnya. Gili Trawangan, Senggigi, Gunung Rinjani, dan Desa Bayan Beleq, tentu sudah tak asing di telinga kita.

Dan Anda harus tahu, tempat ini sudah jadi referensi turis Muslim dunia. Mari kita simak pengakuan Elena Nikolova, pendiri muslimtravelgirls.com, blog yang khusus menulis tempat-tempat wisata ramah bagi kaum Muslim.

Semula, dia bingung saat ditanya rekomendasi tempat bulan madu halal untuk pasangan Muslim. Tapi, setelah mengenal Lombok, dia sudah tak pusing lagi. Pulau di barat Sumbawa ini selalu dia anjurkan untuk didatangi para pembaca setianya.

“ Percaya atau tidak, Lombok telah memromosikan diri sebagai destinasi yang ramah untuk pasangan Muslim dengan banyak pilihan fasilitas halal,” tulis Elena.

Lombok seolah menjadi ikon wisata halal Indonesia. Mereka memang satu-satunya daerah yang saat ini sudah punya peraturan tentang pariwisata halal. Turis Muslim bisa menemukan masjid untuk beribadah, restoran yang menyediakan menu halal, serta vila-vila ‘syariah’ di segala sudutnya.

Anda masih ragu dengan testimoni Elena? Bacalah berita yang masih hangat ini. Lombok baru saja memborong tiga gelar dalam World Halal Tourism Award 2016, ajang yang digelar di Abu Dhabi. Salah satunya untuk kategori World's Best Halal Honeymoon Destination. Tahun lalu, Lombok menyabet dua gelar di ajang yang sama.

Dan kita boleh berbangga. Lombok bukan satu-satunya wakil negeri kita yang sukses di ajang itu. Dari 16 kategori, 12 penghargaan diboyong Indonesia. Bukan hanya destinasi.... hotel, biro travel, transportasi, bahkan kategori website wisata halal, kita menangkan!

Kemenangan ini bukan kebetulan. “ Menurut Pak Menteri bahwa kemenangan itu direncanakan, jangan mengharapkan kemenangan kalau tidak ada rencana,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana.

Kemenangan ini harus disyukuri. Setidaknya, bukan sekadar plakat atau sertifikat. Melainkan menjadi momentum menjadikan pelaku wisata halal menjadi semakin percaya diri, dipercaya orang, dan semakin dekat dengan standar global.

“ Karena selama ini halal awards bergengsi selalu didominasi oleh teman dari Turki dan Malaysia, jadi kami serius. Mulai membuat ajang seleksi dari tingkat nasional hingga tim yang diputuskan lolos melaju ke ajang internasional,” papar Pitana.

Dan sejatinya Indonesia memang bak 'surga'. Tempat indah tak hanya Lombok dan Bali, atau juga wakil yang menang dalam ajang WHTA 2016 itu. Jika Anda punya kesempatan menjelajah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, kami jamin takjub. Anda akan melihat ‘surga dunia’ terhampar di bumi Nusantara ini.

***
Seperti kata Pitana, kemenangan ini memang harus diartikan sebagai pendorong rasa percaya diri. Pembakar semangat untuk bersaing dalam pasar wisata halal dunia. Tidaklah berlebihan, karena kue sektor ini memang sangat besar.

Mari kita lihat data Global Islamic Economy Report 2016-2017 yang dikeluarkan Thomson Reuters. Laporan itu menyebut pengeluaran umat Muslim di sekujur Bumi untuk plesiran sekitar US$151 miliar. Jika ditukar dengan rupiah, jumlahnya kira-kira jumlahnya Rp2.025 triliun. Setara 11,2% dari seluruh pengeluaran umat Muslim dunia. Besaran itu di luar pengeluaran untuk perjalanan haji dan umroh.

Jika dibandingkan dengan pengeluaran sektor wisata dari masyarakat negara di dunia, angka itu jadi ke dua terbesar. Hanya China yang mengalahkan angka itu. Selama 2015, rakyat negeri Tirai Bambu ini mengeluarkan duit US$168 miliar atau Rp2.254 triliun untuk melancong.

Anda juga perlu tahu, pengeluaran umat Muslim dunia untuk sektor wisata diprediksi bengkak pada 2021 nanti, menjadi US$243 miliar, sekitar Rp 3.140 triliun, atau sekitar 12,3% pengeluaran kaum Muslim di jagat ini –di luar umroh dan haji.

Soal belanja, turis Muslim asal Saudi paling royal. Selama 2015, pelancong mereka menghamburkan US$19,2 miliar atau sekitar Rp 257,6 triliun untuk belanja di sektor wisata.

Angka itu disusul Uni Emirat Arab dengan US$15,1 miliar atau setara Rp202.6 triliun, Qatar dengan US$11,7 miliar atau Rp 157 triliun, Indonesia Rp122 triliun, dan Kuwait US$9 miliar atau Rp 120,7 triliun.

Potensi besar. Namun wisata halal Indonesia masih tercecer di belakang negara-negara lain. Jika tak segera bangun, sudah pasti kita ketinggalan kereta. Hanya kebagian sedikit dari kue besar bisnis ini.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan, selama 2015 Indonesia hanya mampu mendatangkan wisatawan Muslim –baik yang datang dari dalam dan luar negeri– sekitar 2.211.934 atau 21% dari total 10.404.759 turis yang datang.

Bandingkan dengan Malaysia. Tahun lalu, negeri jiran ini masih memimpin sektor ini dengan 6.185.987 turis Muslim, atau sekitar 24% dari total 25.721.251 wisatawan yang datang ke sana.

Indonesia bahkan masih kalah dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Bahkan, negara terakhir itu menyeret 3.618.211 turis Muslim untuk datang. Angka ini 24% dari total wisatawan yang datang ke negeri yang dulu kita sebut dengan nama Tumasik itu.

***
Statistik Indonesia memang nomor buncit. Tapi justru itulah yang harus jadi pelecut semangat kita untuk mengejar ketinggalan dari negara lain. Kemenpar terus berbenah. “ Setelah menang, langkah selanjutnya adalah melakukan kalibrasi dan promosi seperti Jepang dan Korea,” ujar Pitana.

Jepang dan Korea memang bukan negeri Muslim. Tapi mereka sangat getol menarget pelancong dari negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Mereka gencar promosi wisata halal.

“ Negara yang non-Muslim saja mengejar potensi ini, kenapa tidak kita gunakan juga kemenangan itu. Dan kita sangat layak memromosikan diri,” tambah Pitana.

Dia menegaskan, industri makanan halal harus segera disiapkan untuk bersaing di sektor wisata syariah ini. Sebab, pada dasarnya pariwisata tidak hanya terfokus pada kesiapan produk, tapi lebih pada tuntutan untuk memenuhi kriteria layanan halal.

“ Makanan halal itu hukumnya mutlak. Kalau kita ke hotel selama tidak menjual wine tidak masalah, tapi kalau makanan halal wajib hukumnya,” terang dia.

Selain itu, Indonesia akan fokus menambah destinasi halal. Namun untuk urusan ini akan diserahkan kepada masing-masing daerah yang merasa sudah siap menyusul Aceh, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat.

“ Kita kembali ke kriteria halal dan kita bisnis untuk mendatangkan wisatawan dari daerah yang mensyaratkan halal. Pasar utama itu wisatawan dari Singapura, Malaysia, China, Korea, Jepang, India, Eropa dan Timur Tengah,” lanjut Pitana.

Dalam waktu dekat, Indonesia juga membenahi tiga hal. Pertama atraksi, yaitu menyiapkan daya tarik produk atau tempat wisata halal. Ke dua, akses yang mudah menuju tempat wisata. Dan terakhir amenitas atau fasilitas yang mumpuni untuk mendukung.

Pengamat keuangan syariah, Syakir Sula, mengatakan, pertumbuhan wisata halal Indonesia mengalami kemajuan sangat pesat. Namun belum ada hitungan angka pasti tentang besarnya potensi sektor ini.

“ Promosi yang sangat baik dalam mengenalkan wisata syariah di Indonesia ini akan mendorong pariwisata halal yang baik di 2017. Walaupun kita belum punya parameter, dan tahun depan baru kita punya angka-angka,” ujar Syakir.

Menurut dia, promosi yang dilakukan pemerintah untuk mengenalkan makanan dan hotel halal kepada wisatawan dunia sudah bagus. Buktinya, Indonesia bisa menyabet 12 gelar dalam ajang WHTA 2016.

Dia berharap lebih serius menggarap wisata halal yang belum maksimal ini. Terutama industri travel yang mulai menyasar pasar Timur Tengah. Sehingga dampak wisata halal dirasakan daerah-daerah di Tanah Air.

“ Saya kebetulan sedang bersama Gubernur NTB, dan dia ceritakan sepanjang 2016 banyak sekali wisatawan Timteng yang dulunya cuma tahu Turki dan Malaysia sekarang ke Lombok,” lanjut Syakir.

Dia optimis sektor wisata syariah akan tumbuh signifikan. Dia melihat Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Komite Keuangan Syariah sangat serius mendorong semua kegiatan yang terkait dengan syariah di Indonesia.

“ Saya rasa ini dahsyat sekali, membuat komite di bawah Presiden langsung jadi menurut saya tiga tahun ke depan akan mengalami pertumbuhan luar biasa,” kata dia.

“ Baru 5 persen yang jalan berarti ada 95 persen market share ekonomi syariah yang belum tergarap. Ayo dikembangkan,” pungkas Syakir.

Dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, mayoritasnya adalah Muslim. Itu adalah modal luar biasa untuk menopang ambisi merebut ceruk wisata halal yang besar ini. Semoga berhasil. Amin.

Sumber: dream

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…