Skip to main content

Aksi Bela Islam III 212 Menunjukkan Kematangan Sikap Umat Islam, Tidak Anarkis, Menjaga Kebersihan, Tertib!!! Tidak Seperti Demo Bayaran 412

ilustrasi

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengapresiasi aksi Doa Bersama 2 Desember (212) yang berlangsung dengan damai.

"Aksi 212 tersebut patut diapresiasi tinggi, karena menunjukkan kematangan sikap dan keluhuran budi umat Islam Indonesia," kata Haedar lewat keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Sabtu (3/12).

Kepolisian, TNI serta seluruh aparat keamanan, kata dia, juga layak memperoleh penghargaan karena mampu mengawal jalannya aksi secara damai dan tertib. Warga masyarakat Jakarta yang tidak ikut aksipun menunjukkan kedewasaan dan toleransi tinggi.

Dia mengatakan tedapat sejumlah pesan sangat penting dari aksi damai 212 itu. Aksi itu ditunjukkan dengan aktivitas spiritual dalam wujud dzikir, tausyiyah dan puncaknya shalat Jumat berjamaah.

Menurut dia, aksi seluruh komponen umat Islam dari Jakarta dan sekitarnya serta berbagai pelosok Tanah Air sangat simpatik, sejuk, tertib dan ramah. Gelora damai sangat terasa, bukan hanya dari sikap peserta aksi yang tampak sejuk dan menyebarkan sikap bersahabat bahkan tidak ada tumbuhan yang terganggu.

Aksi 212, lanjut dia, memperkuat dan membuktikan kepada publik, bahwa umat Islam Indonesia mencontohkan misi damai dalam kata dan tindakan. Sekaligus menjadi pesan ke publik, tudingan umat Islam garang dan suka menimbulkan keributan, apalagi jika sering dikaitkan dengan teror, sangatlah tidak tepat.

"Tudingan tersebut tentu hanya stigma negatif kepada umat Islam," kata dia.

Haedar mengatakan keberhasilan aksi damai 212 bukan hanya milik umat Islam, tetapi milik bangsa secara keseluruhan. Jika kasus penistaan agama itu nanti berujung pada hukuman yang setimpal sebagaimana tuntutan utama aksi damai, maka yang diuntungkan sesungguhnya seluruh umat beragama dan warga bangsa.

Sumber: rol

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…